Ing Iskandarsyah Bidik Dana Danantara Rp1 Triliun, Karimun Disiapkan Jadi Sentra Pakan dan Pangan

Bupati Karimun, Ing Iskandarsyah. (Foto: Nov)

KARIMUN | WARTA RAKYAT – Pemerintah Kabupaten Karimun terus mendorong transformasi ekonomi daerah melalui penguatan sektor pangan, energi, perdagangan dan investasi.

Salah satu agenda yang tengah dipacu ialah pembangunan pabrik pakan ayam dengan dukungan pendanaan dari Danantara yang ditargetkan mencapai sekitar Rp1 triliun.

Bacaan Lainnya

Bupati Karimun, Ing Iskandarsyah, mengatakan, pembangunan pabrik pakan menjadi bagian dari strategi menekan biaya produksi peternakan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

“Kita dorong, insyaallah mudah-mudahan kita mendapatkan dana-dana dari Danantara sekitar Rp1 triliun untuk membangun pabrik pakan ayam,” ujar Ing Iskandarsyah.

Menurutnya, tingginya harga ayam di Karimun salah satunya dipengaruhi oleh biaya pakan. Karena itu, pembangunan industri pakan dinilai strategis untuk memutus ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah sekaligus menciptakan ekosistem ekonomi baru yang terintegrasi dengan sektor pertanian.

Ing Iskandarsyah juga melihat jagung sebagai salah satu komoditas yang paling potensial dikembangkan di Karimun. Terlebih, keberadaan gudang di Buluh yang nantinya dapat menyerap hasil produksi petani akan membuka kepastian pasar bagi masyarakat.

“Kalau nanti gudang kita selesai di Buluh, yang menanam jagung akan kita beli jagungnya. Saya melihat salah satu yang paling cocok di Karimun ini adalah jagung,” katanya.

Langkah tersebut menunjukkan arah kebijakan yang tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik, tetapi juga membangun rantai ekonomi dari hulu ke hilir mulai dari petani, produksi jagung, industri pakan, peternakan hingga pasar.

Di sektor pariwisata dan perdagangan, Pemkab Karimun juga terus melihat peluang dari tingginya mobilitas masyarakat negara tetangga.

Ing Iskandarsyah menyebut, berdasarkan data yang dimiliki pemerintah daerah, sekitar 5.400 orang per bulan dari Malaysia dan Singapura datang ke Karimun.

“Dari data kami, ada sekitar 5.400 orang per bulan dari Malaysia dan Singapura datang ke sini. Ini yang terus kita dorong,” ujarnya.

Menurutnya, arus kunjungan tersebut merupakan potensi ekonomi yang harus dikonversi menjadi perputaran uang di daerah melalui penguatan perdagangan, pariwisata, UMKM dan berbagai sektor jasa.

Tak berhenti pada pangan dan pariwisata, agenda pembangunan Karimun juga diarahkan pada penguatan ketahanan energi.

Ing Iskandarsyah mengungkapkan, pemerintah daerah mendorong pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Sugie Besar yang ditargetkan terealisasi pada tahun depan.

Pengembangan energi juga didorong di sejumlah wilayah lainnya, termasuk Kecamatan Belat dan Kundur. Menurutnya, pembangunan daerah harus dilakukan secara menyeluruh dan tidak hanya terpusat pada satu sektor.

“Insyaallah tahun depan di Sugie Besar itu ada PLTS, pembangkit listrik tenaga surya. Termasuk di Kecamatan Belat dan di Kundur kita dorong. Tidak hanya sekolah rakyat,” katanya.

Ing Iskandarsyah menegaskan, berbagai potensi tersebut merupakan modal besar bagi Karimun untuk membangun kemandirian ekonomi.

Ia menyebut Karimun sebagai daerah yang memiliki kekayaan sumber daya dan posisi strategis, namun potensi tersebut harus ditopang dengan kerja keras, inovasi dan keberanian mengambil peluang.

“Karimun adalah negeri yang kaya, yang harus kita dorong terus. Dan yang membuahkan kita jadi miskin adalah cara kerja kita,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan bahwa kualitas sumber daya manusia dan etos kerja menjadi faktor penentu dalam mengubah potensi menjadi kesejahteraan.

“Di dunia ini tidak ada orang yang bodoh, yang ada orang malas saja,” ujarnya.

Pernyataan tersebut disampaikan Ing Iskandarsyah saat menghadiri pelantikan Pengurus PKSB Kabupaten Karimun periode 2026–2030 di Rumah Gadang PKSB Kabupaten Karimun, Senin (24/8/2026) malam.

Dengan agenda pembangunan yang mencakup industri pakan, pertanian jagung, pariwisata lintas negara hingga energi terbarukan, Pemkab Karimun tengah mencoba membangun fondasi ekonomi yang lebih produktif.

Tantangannya kini bukan lagi sekadar memiliki potensi, melainkan seberapa cepat potensi tersebut mampu diubah menjadi industri, lapangan kerja dan kesejahteraan masyarakat. (Nov)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses