KARIMUN | WARTA RAKYAT – Bagi nelayan tradisional, jaring bukan sekadar alat tangkap. Di balik lembaran jaring yang ditebar ke laut, ada harapan untuk membawa pulang hasil tangkapan yang cukup bagi keluarga.
Memahami kebutuhan tersebut, PT TIMAH Tbk terus mendorong pemberdayaan masyarakat pesisir melalui dukungan terhadap penguatan mata pencaharian nelayan. Kali ini, perusahaan menyerahkan bantuan jaring ikan kepada Perkumpulan Masyarakat Nelayan Kelurahan Sawang, Kecamatan Kundur Barat, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.
Bantuan tersebut diperuntukkan bagi 30 nelayan yang menjadi penerima manfaat. Jaring yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan nelayan setempat untuk menangkap ikan biang dan ikan lome.
Bagi para nelayan yang sebagian besar masih menggunakan sampan sebagai sarana melaut, bantuan ini menjadi dukungan penting untuk menjaga produktivitas di tengah hasil tangkapan yang tidak selalu dapat diprediksi.
Ketua Perkumpulan Masyarakat Nelayan Kelurahan Sawang, Jumari, mengatakan bantuan tersebut sangat membantu, terutama karena sebagian jaring milik nelayan sudah mengalami kerusakan akibat pemakaian.
“Alhamdulillah, bantuan dari PT TIMAH kami manfaatkan untuk membeli jaring bagi nelayan. Jaring yang dibeli disesuaikan dengan kebutuhan nelayan, yaitu untuk menangkap ikan biang dan ikan lome,” ujar Jumari.
Menurutnya, perkumpulan nelayan tersebut memiliki lebih dari 100 anggota. Namun, bantuan kali ini diprioritaskan kepada 30 nelayan yang aktif melaut dan menggantungkan penghasilan utama dari hasil tangkapan.
Kondisi tersebut menggambarkan tantangan yang dihadapi nelayan tradisional. Dengan mengandalkan sampan dan alat tangkap sederhana, pendapatan mereka sangat bergantung pada kondisi laut dan jumlah ikan yang diperoleh setiap kali melaut.
“Rata-rata nelayan di sini masih tradisional. Mereka menggunakan sampan untuk mencari nafkah di laut. Hasilnya juga tidak tentu. Kalau hasil tangkapan lebih banyak, pendapatan mereka tentu lebih baik,” katanya.
Jumari menjelaskan, kebutuhan terhadap jaring baru cukup mendesak. Biaya pengadaan satu utas jaring berikut upah pembuatannya dapat mencapai sekitar Rp500 ribu. Melalui bantuan PT TIMAH, masing-masing nelayan memperoleh sekitar lima utas jaring.
“Kalau membeli satu utas jaring sekaligus dengan upahnya bisa hampir Rp500 ribu. Sekarang satu nelayan bisa mendapatkan lima utas. Ini sangat membantu karena kondisi jaring yang lama sudah banyak yang rusak,” jelasnya.
Bagi nelayan, jaring yang layak bukan hanya soal kenyamanan bekerja, tetapi berkaitan langsung dengan peluang memperoleh hasil tangkapan. Dengan alat tangkap yang lebih baik, aktivitas melaut diharapkan dapat berjalan lebih optimal dan pada akhirnya ikut menopang pendapatan keluarga.
“Kalau jaringnya masih baru, ikan lebih mudah masuk ke perangkap. Jadi kami berharap ini bisa membantu meningkatkan hasil tangkapan nelayan,” ungkap Jumari.
Ia menilai, dukungan seperti ini memiliki arti penting karena nelayan harus membagi pendapatan yang diperoleh untuk berbagai kebutuhan rumah tangga. Membeli alat tangkap baru secara mandiri sering kali harus ditunda ketika hasil tangkapan sedang tidak menentu.
Lebih jauh, Jumari memandang hubungan antara perusahaan dan masyarakat pesisir perlu dibangun melalui komunikasi, saling memahami dan sinergi. Kehadiran perusahaan di wilayah pesisir, menurutnya, dapat berjalan berdampingan dengan aktivitas masyarakat apabila masing-masing pihak memiliki komitmen untuk menjaga kepentingan bersama.
“Saya berpikir positif. Wilayah Kundur Barat ini juga tempat nelayan mencari ikan. Kalau semua bisa saling memahami, tidak saling mengganggu, dan punya itikad untuk membantu, seharusnya bisa saling bersinergi,” tuturnya.
Ia berharap dukungan PT TIMAH tidak berhenti pada bantuan sarana tangkap, tetapi dapat terus berkembang menjadi program pemberdayaan yang memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
“Mudah-mudahan ke depannya perusahaan semakin maju sehingga bisa berkontribusi untuk negara dan masyarakat, sehingga kita bisa sama-sama mendapatkan manfaat,” harapnya.
Bantuan jaring tersebut pada akhirnya bukan sekadar pengadaan alat tangkap. Di tengah ketidakpastian hasil laut, jaring baru menjadi bagian dari upaya memperkuat produktivitas nelayan tradisional sekaligus menjaga keberlanjutan ekonomi keluarga pesisir.
Dari Sawang, dukungan sederhana terhadap alat tangkap menjelma menjadi harapan agar nelayan dapat melaut lebih optimal, membawa pulang hasil lebih baik, dan terus menjaga denyut kehidupan masyarakat pesisir Kundur Barat. (Nov)






