Serampang 12 Satukan Tiga Negara di Karimun, Taja Tari 2026 Tinggalkan Persaudaraan yang Tak Terlupakan

Serampang 12 Satukan Tiga Negara di Karimun, Taja Tari 2026 Tinggalkan Persaudaraan yang Tak Terlupakan

KARIMUN | WARTA RAKYAT — Sebuah festival boleh berakhir ketika lampu panggung dipadamkan. Namun, persahabatan yang lahir di dalamnya bisa bertahan jauh lebih lama.

Itulah cerita yang ditinggalkan Karimun Taja Tari 2026. Bukan semata tentang pertunjukan, kompetisi atau kemegahan panggung, tetapi tentang perjumpaan manusia, persahabatan dan persaudaraan seni antara Indonesia, Malaysia dan Singapura.

Bacaan Lainnya

Salah satu kisah paling berkesan datang dari Fatih Mohtar, mewakili Kumpulan Sanggar Budaya Sri Pengkalan, Malaysia, yang menyampaikan pesan terima kasih setelah mengikuti rangkaian Taja Tari 2026.

Secara khusus, Fatih memberikan apresiasi kepada Ahadian Zulseptriadi, sosok yang dinilainya turut membuka ruang pertemuan bagi para seniman dari berbagai negara untuk kembali hadir dan “berkampung” di Karimun.

“Terima kasih khas buat Saudara Ahadianz, yang masih mahu kami ‘berkampung’ lagi di Karimun,” ungkap Fatih, Senin (31/8/2026).

Bagi Fatih, hubungan tersebut bukan baru terjalin melalui Karimun Taja Tari. Jejaring persahabatan seni telah tumbuh sejak Festival Pelangi Budaya Nusantara dan kembali menemukan ruang perjumpaan di Karimun.

Namun, ada satu momen spontan yang justru menjadi kenangan paling kuat.

Ketika “Otai-Otai” Seni Turun Menari

Di tengah suasana penuh keakraban, Ahadian mengajak para koreografer dan seniman dari tiga negara untuk menari bersama.

Tanpa panggung yang dirancang khusus. Tanpa sekat negara. Tanpa jarak antara seniman senior dan generasi lainnya.

Ketika musik dimainkan, mereka berkumpul dan menarikan Serampang 12 bersama.

Indonesia, Malaysia dan Singapura seketika berada dalam satu irama.

Para “otai-otai” seni** sebutan dalam bahasa Melayu Malaysia untuk para seniman senior yang telah lama berkiprah larut dalam suasana santai dan penuh kegembiraan.

Fatih menyebut momen tersebut sebagai pengalaman yang sulit dilupakan.

“Siapa sangka, daripada suasana santai akhirnya tercipta satu momen yang cukup istimewa. Kita daripada tiga negara Malaysia, Indonesia dan Singapura dapat menari dan berkongsi satu persembahan di atas pentas yang sama,” katanya.

Bahkan, candaan tentang langkah tarian yang mungkin “ke laut” justru membuat suasana semakin cair.

Sebab malam itu bukan tentang siapa yang paling sempurna menari. Yang penting adalah siapa yang berdiri bersama.

Seni Tak Kenal Paspor

Di atas panggung, batas geografis seakan hilang.Tidak ada lagi Malaysia, Indonesia atau Singapura sebagai sekat. Yang tersisa adalah para sahabat seni yang berbagi musik, gerak dan kegembiraan dalam satu ruang budaya Melayu.

Di situlah seni menunjukkan kekuatannya.
Ia tidak membutuhkan paspor untuk mempertemukan manusia. Tidak membutuhkan bahasa yang panjang untuk membangun persahabatan. Cukup musik, gerak dan rasa cinta terhadap budaya.

Para seniman yang datang ke Karimun akhirnya membawa pulang sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar pengalaman tampil, yaitu kenangan tentang persaudaraan yang tumbuh di tengah panggung budaya.

Dari Karimun, Persaudaraan Itu Berlanjut

Apresiasi serupa juga datang dari Azpirasi dan Era Dance Theatre, Singapura. Mereka menyampaikan terima kasih atas sambutan, keramahan serta kesempatan yang diberikan selama berada di Karimun.

Harapan untuk kembali bertemu dan melanjutkan kolaborasi seni menjadi pesan yang turut mengemuka setelah festival berakhir.

Sebab, bagi para seniman, sebuah festival tidak berhenti pada siapa yang menang atau siapa yang tampil.

Festival adalah ruang pertemuan. Tempat budaya dikenalkan. Tempat persahabatan dibangun. Dan tempat karya baru menemukan jalan untuk lahir.

Karimun menjadi titik temunya. Malaysia datang membawa tradisi dan karya. Singapura hadir dengan pengalaman serta kreativitas. Indonesia menjadi tuan rumah sekaligus ruang perjumpaan. Dan seni budaya menjadi bahasa bersama.

Ahadian dan Ruang yang Terus Dibuka

Dari Festival Pelangi Budaya Nusantara hingga Karimun Taja Tari 2026, ruang pertemuan itu terus dibuka. Para seniman kembali bertemu. Persahabatan kembali dirawat. Dan kemungkinan kolaborasi baru kembali tumbuh.

Momen ketika Ahadian mengajak para koreografer dan seniman menarikan Serampang 12 mungkin tampak sederhana. Namun, bagi mereka yang berada di dalam lingkaran itu, ia menjadi simbol yang jauh lebih besar, yakni seni mampu meruntuhkan batas yang dibangun oleh jarak dan negara.

Laut memang memisahkan Indonesia, Malaysia dan Singapura. Tetapi budaya serumpun selalu menemukan jalan untuk mendekatkan.

Karimun Taja Tari 2026 akhirnya meninggalkan sebuah pesan yang sederhana namun kuat, yaitu jangan biarkan jarak memisahkan persaudaraan. Sebab melalui seni, selalu ada alasan untuk kembali bertemu.

Mungkin suatu hari nanti, para “otai” seni dari tiga negara itu akan kembali berdiri di satu panggung.

Bukan sekadar untuk tampil. Tetapi untuk kembali menari, tertawa dan mengenang satu malam di Karimun ketika Serampang 12 menyatukan mereka dalam satu irama.

Terima kasih Karimun Taja Tari 2026

Terima kasih kepada para seniman Indonesia, Malaysia dan Singapura yang telah menjadikan panggung ini lebih dari sekadar pertunjukan.

Dan terima kasih kepada mereka yang terus membuka ruang agar persahabatan melalui seni tetap hidup.

“Setiap pertemuan itu bersyarat, dan perpisahan itu pasti,” ujar Fatih Mohtar,
mewakili Kumpulan Sanggar Budaya Sri Pengkalan, Malaysia. (Nov)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses