Diduga Kaya, Ternyata Hanya Gaya

190
Foto: Cristyn Yohana Sianipar, Melda Junita, Nadya Tifany Ananda, Natalia Fitria Revini Pranata, Sari Puspita Dewi. (Mahasiswa prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi)

Di era modernisasi saat ini, baik gaya hidup (style) maupun pola konsumsi menjadi suatu hal yang sangat menarik untuk di perbincangkan.

Tak bisa dipungkiri, dengan majunya zaman dan perkembangan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) tentu sangat mempermudah manusia untuk melakukan segala aktivitas, termasuk perihal berbelanja.

Kehadiran market place seperti para penjual online (e-commerse) yang menawarkan berbagai varian produk (barang dagangan) mendorong terjadinya sifat hidup boros.

Gejala yang timbul saat ini disebut “Hedonisme”, yaitu gaya hidup yang mewah.

Sifat hedonisme mempengaruhi manusia untuk menuntut keadaan agar terlihat  kaya. Ia selalu membeli berbagai macam barang meskipun tidak dibutuhkan sama sekali.

Lantas bagaimana dengan individu yang memiliki modal terbatas namun tetap ingin terlihat kaya?

Nah, hal ini yang akan menjadi pemicu terjadinya perilaku menyimpang seperti berbohong, mencuri, dan sebagainya. Inilah dampak apabila manusia tidak dapat menerapkan skala prioritas kebutuhan.

Tulisan ini berangkat dari fenomena hedonisme yang telah menjamur di kalangan masyarakat, khusunya generasi muda/milenial. Tentu hal ini bertentangan dengan kaidah kaidah islam.

Indvidu harusnya mampu mengetahui bahwa islam memberi batasan-batasan dalam bergaya dan berkonsumsi.

Banyaknya dampak negatif dari gaya hidup mewah dan boros ini tentu akan merusak moral dan etika setiap individu yang terpengaruh.

Sebelum membahas tentang bagaimana lebih rinci mengenai fenomena hedonisme dan sifat boros ini dalam kehidupan, berikut akan dijelaskan mengenai pengertian hedonisme dan sifat boros secara lebih luas.

Pengertian Hedonisme
Secara etimologi Hedonisme diambil dari bahasa yunani yaitu “Hedone”  yang artinya kesenangan.

Secara sederhana pengertian Hedonisme mengacu pada paham kesenangan terhadap kenikmatan.

Sedangkan pengertian Hedonisme menurut para ahli adalah “sesuatu yang dianggap baik sesuai dengan kesenangan yang didatangkannya.

Dengan kata lain sesuatu yang hanya mendatangkan kesusahan, penderitaan, dan tidak menyenangkan adalah sesuatu yang dinilai tidak baik”(Burhanuddin 1997:81)

Ada Dua Faktor penyebab Hedonisme

Pertama, faktor internal.
Yaitu berasal dari dalam diri sendiri. Sudah menjadi sifat dasar manusia itu ingin mempunyai kesenangan sebanyak banyaknya dengan bekerja seringan mungkin dan tidak puas dengan hal yang sudah dimiliki.

Kedua, Faktor eksternal
Yaitu arus informasi dari luar yang sangat besar atau juga globalisasi. Kebiasaan kebiasaan orang dari luar negeri yang dianggap dapat membuat senang lalu diadaptasi oleh masyarakat Indonesia.

Ciri ciri Hedonisme di masyarakat:
Berfikir bahwa tujuan utama hidup seseorang adalah kenikmatan dan kesenangan pribadi.

Tidak peduli dengan kepentingan dan kebahagiaan orang lain sehingga menjadi pribadi yang egois, tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimiliki dan bersifat konsumtif.

Mereka yang menganut Hedonisme cenderung diskriminatif dan sombong. Padahal dampak dari hedonisme dapat memicu timbulnya sikap individualisme, konsumtif, egois, kurang bertanggung jawab, boros, bahkan korupsi.

Sifat Boros
Boros merupakan tindakan dalam membelanjakan harta untuk hal yang sia sia. Allah SWT berfirman:
وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا
“Dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, juga kepada orang miskindan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS. Al-Isra’ : 26)
إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
” Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan dan setan itu sangat kufur kepada Tuhannya” (QS. Al-Isra’ : 27)
Boros merupakan salah satu dampak dari Hedonisme, dan merupakan salah satu sifat tercela yang tidak diperbolehkan untuk di terapkan dalam islam.

Dampak negatif dari gaya hidup boros :
Tidak menghargai uang
Kesulitan melacak perginya uang
Menyebabkan utang
Menenggelamkan masa depan
Menimbulkan kecemburuan social
Menimbulkan sifat sombong
Mengandalkan orang lain

Contoh Kasus  Hedonisme dan Boros
Ibu Sandra cemburu melihat tetangganya telah berhasil membeli sebuah mobil. Karena sifat hedonisme nya, Ibu Sandra memaksakan diri untuk membeli mobil yang serupa dengan yang dibeli oleh tetangganya, padahal dia sendiri sudah memiliki sebuah mobil, sehingga mobil yang sudah ada tidak terpakai.

Lantas ibu Sandra pun terlilit hutang dikarenakan keterbatasan modal untuk membeli mobil tersebut.

Dari Kasus diatas, kita perlu mempelajari teori tentang konsumsi dalam ekonomi islam agar kita dapat lebih memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan.

Karena sejatinya dalam islam manusia yang mampu mengatur keuangannya sesuai dengan kebutuhan jauh lebih dicintai oleh Allah SWT.

Penulis : Mahasiswa prodi Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jambi
– Cristyn Yohana Sianipar
– Melda Junita
– Nadya Tifany Ananda
– Natalia Fitria Revini Pranata
– Sari Puspita Dewi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.