Setiap tanggal 20 Mei, kita selalu diingatkan pada momentum bersejarah: Hari Kebangkitan Nasional. Sebuah alarm zaman yang semestinya tidak sekadar menjadi ritual seremonial, pidato baris-berbaris, atau pajangan pamflet di media sosial.
Lebih dari itu, hari ini adalah momentum sakral untuk bercermin secara jujur, sejauh mana kita telah bangkit dari keterpurukan, atau jangan-jangan kita sedang terbuai dalam kenyamanan semu.
Sebagai bangsa yang besar, kebangkitan tidak boleh hanya menjadi narasi di atas kertas. Pemerintah, sebagai pemegang kemudi bahtera ini, harus sadar dan membuka mata bahwa fondasi kebangkitan nasional yang sejati bersandar pada tiga pilar utama yang hari ini masih memerlukan perhatian serius dan tindakan nyata.
1. Pendidikan: Membasuh Luka di Penjuru Negeri
Kebangkitan sebuah bangsa mustahil tewujud jika fondasi berpikirnya rapuh. Pembukaan UUD 1945 secara tegas memandatkan tugas suci kepada negara: ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, mari kita tengok ke luar jendela ibu kota.
Indonesia harus bangkit melalui pendidikannya! Kita tidak boleh lagi menutup mata terhadap ketimpangan yang terjadi. Pendidikan harus merata hingga ke pelosok dan penjuru terjauh Nusantara.
Membuka kembali kitab klasik karya Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, khususnya pada Kitab al-‘Ilm (Bab Ilmu), beliau menegaskan bahwa urusan pendidikan dan pengajaran adalah tugas paling mulia setelah kenabian, di mana seorang pengajar berhak mendapatkan penghargaan tertinggi di masyarakat. Namun, bagaimana martabat ilmu bisa ditegakkan jika infrastruktur fisik dan manusianya diabaikan?
Catatan Kritis untuk Pemerintah : Tidak boleh ada lagi anak-anak bangsa yang bertaruh nyawa menyeberangi sungai demi sekolah. Tidak boleh ada lagi ruang kelas yang roboh dan bocor tempat mereka menggantungkan cita-cita. Dan yang paling menyayat hati, tidak boleh lagi ada guru terutama para pahlawan tanpa tanda jasa di daerah 3T dan guru honorer—yang hak-haknya dikebiri dan diabaikan. Bagaimana mungkin kita menuntut kecerdasan bangsa jika kesejahteraan mereka yang mencerdaskannya tidak dimuliakan? Bukankah teladan kita, Rasulullah SAW, jauh-jauh hari telah mengingatkan untuk “Bayarlah upah pekerja sebelum keringatnya mengering”?
2. Pemuda: Menyediakan Ruang, Bukan Sekadar Slogan
Sejarah mencatat bahwa motor penggerak Boedi Oetomo tahun 1908 adalah para pemuda. Maka hari ini, Indonesia harus bangkit bersama pemudanya. Pemuda bukan sekadar komoditas politik menjelang pemilu, dan bukan pula objek pasif dari pembangunan.
Pemerintah harus hadir dengan solusi konkret. Berikan fasilitasi ruang yang luas bagi pemuda untuk terus berkarya, berinovasi, dan tampil di panggung publik.
Dalam masterpice-nya Muqaddimah, sosiolog Muslim terkemuka Ibnu Khaldun mengupas tuntas tentang siklus peradaban. Beliau menekankan pentingnya Asabiyah (solidaritas sosial dan energi kolektif) yang puncaknya selalu digerakkan oleh vitalitas generasi muda. Slogan “pemuda adalah masa depan” akan menjadi bumerang peradaban jika ruang artikulasi dan aktualisasi mereka dipersempit oleh birokrasi.
* Ruang Kreativitas: Sediakan wadah, akses teknologi, dan inkubasi yang memadai.
* Ruang Kebijakan: Berikan kepercayaan penuh bagi generasi muda untuk ikut serta mengambil keputusan strategis.
Jika potensi pemuda terus dihambat oleh birokrasi yang kaku atau minimnya apresiasi, maka kita sedang menyia-nyiakan bonus demografi yang seharusnya menjadi berkah bagi kebangkitan bangsa.
3. Ekonomi: Memakmurkan Akar Rumput di Tengah Badai Global
Kebangkitan nasional tidak akan pernah utuh jika perut rakyatnya masih lapar. Di tengah dinamika global hari ini, di mana nilai kurs rupiah terhadap mata uang internasional mengalami tekanan yang sangat tinggi, kita dihadapkan pada ujian kemandirian ekonomi yang sesungguhnya.
Saya teringat rumusan tajam dari ekonom Muslim kontemporer, Prof. Dr. Umer Chapra dalam bukunyaIslam and the Economic Challenge. Beliau menggarisbawahi bahwa keadilan ekonomi dalam Islam (maqashid syariah) baru tercapai jika kebutuhan dasar masyarakat bawah terpenuhi terlebih dahulu. Stabilitas ekonomi tidak diukur dari megahnya gedung pencakar langit atau angka pertumbuhan makro, melainkan dari berputarnya roda ekonomi di tingkat akar rumput.
Dalam situasi pelik ini, Indonesia harus bangkit melalui penguatan segala sektor ekonomi domestik. Pemerintah wajib menghidupkan dan memakmurkan urat nadi ekonomi rakyat:
* UMKM: Harus dimakmurkan dan diberi perlindungan serta kemudahan akses modal.
* Pedagang Pasar, Petani, dan Buruh: Harus diberikan jaminan kemakmuran, stabilitas harga pangan, dan upah yang layak.
Ketika daya beli masyarakat bawah diperkuat melalui sektor domestik yang berdaya, ekonomi kita akan memiliki daya tahan (resiliensi) yang kuat dan tidak mudah goyah oleh badai kurs global.
Penutup
Hari Kebangkitan Nasional adalah momentum ketukan kesadaran bagi pemerintah dan kita semua. Kebangkitan tidak datang dari luar; ia lahir dari kemauan politik (political will) yang berpihak pada rakyat kecil, pada guru di pedalaman, pada pemuda kreatif, dan pada buruh serta petani yang memeras keringat di ladang-ladang.
Mari kita pastikan, momentum ini menjadi titik balik bagi Indonesia untuk benar-benar bangkit, berdaulat secara ekonomi, cerdas secara intelektual, dan gagah dipimpin oleh generasi mudanya.
Oleh: Andryan Rahmana Riswandi, S.Ag
Tentang Penulis:
Andryan Rahmana Riswandi, S.Ag adalah seorang akademisi, pemikir sosial-keagamaan, dan pengamat kemasyarakatan. Latar belakang pendidikannya di bidang Ushuluddin/Keagamaan (S.Ag) membentuk cara pandangnya yang holistik dalam melihat berbagai persoalan bangsa—memadukan nilai-nilai spiritual, moralitas, dan realitas sosial.
Ia aktif dalam berbagai forum diskusi kepemudaan, literasi, dan pemberdayaan masyarakat. Melalui tulisan-tulisannya, Andryan konsisten menyuarakan pentingnya keadilan sosial, pemerataan pendidikan bagi masyarakat akar rumput, serta mendorong optimalisasi potensi pemuda sebagai pilar utama kemajuan bangsa. Ia meyakini bahwa kemandirian ekonomi dan kecerdasan bangsa adalah kunci utama untuk membawa Indonesia berdaulat penuh di panggung internasional.






