Dispora Karimun Angkat Warisan Melayu ke Panggung Serumpun, 17 Tim Adu Ketangkasan Gasing di Coastal Area

Bupati Karimun Ing Iskandarsyah dan Wakil Bupati Rocky M Bawole menyaksikan pertunjukan dalam pembukaan Pertandingan Gasing dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Karimun ke-27 di area parkir Hall A Coastal Area, Sabtu (31/10/2026). FOTO: NOV/WARTA RAKYAT

KARIMUN | WARTA RAKYAT – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Karimun menghadirkan kembali tradisi permainan gasing melalui pertandingan dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Karimun ke-27 Tahun 2026.

Mengusung tema “Gasing Berputar, Budaya Terjaga, Dunia Bersaudara”, kegiatan ini menjadi panggung pelestarian warisan budaya Melayu sekaligus mempererat persaudaraan lintas daerah dan negara.

Bacaan Lainnya

Pertandingan yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 tersebut dipusatkan di area parkir Hall A Coastal Area Karimun. Pembukaan dilakukan langsung oleh Bupati Karimun, Ing Iskandarsyah, didampingi Wakil Bupati Karimun Rocky Marciano Bawole, serta dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) dan pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD).

Bupati Ing Iskandarsyah menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurutnya, permainan gasing bukan sekadar kompetisi tradisional, melainkan bagian dari identitas budaya yang harus dijaga keberlangsungannya.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena gasing merupakan salah satu warisan budaya yang harus kita jaga dan lestarikan. Selain itu, melalui kegiatan ini kita dapat mempererat silaturahmi, saling mengenal, dan memperkuat persaudaraan, khususnya masyarakat Melayu yang berasal dari daerah serumpun,” ujar Ing Iskandarsyah.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada peserta dari Malaysia dan Singapura yang turut mengambil bagian dalam pertandingan tersebut.

Bupati menegaskan, esensi kegiatan tidak semata-mata terletak pada kemenangan, tetapi pada upaya membangun kebersamaan dan menjaga warisan leluhur.

“Selamat bertanding kepada seluruh peserta. Mudah-mudahan kegiatan ini bukan hanya berbicara tentang menang atau kalah, tetapi bagaimana kita merangkai persaudaraan serta menjaga dan melestarikan salah satu peninggalan budaya kita, yaitu gasing,” tegasnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut sejalan dengan visi Kabupaten Karimun, yakni mewujudkan Karimun yang maju, sejahtera, dan berbudaya. Pelestarian tradisi menjadi bagian penting dalam membangun identitas daerah di tengah perkembangan zaman.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karimun, Usman, menjelaskan bahwa permainan gasing memiliki akar sejarah kuat dalam kehidupan masyarakat pesisir Melayu, khususnya di Kabupaten Karimun dan wilayah Kepulauan Riau.

Menurutnya, tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun dan mengandung nilai kebersamaan, ketangkasan, strategi, serta sportivitas.

“Gasing bukan sekadar permainan untuk mengisi waktu luang. Di dalamnya terdapat nilai-nilai budaya dan karakter, mulai dari kebersamaan, ketangkasan, strategi hingga sportivitas. Karena itu, olahraga tradisional seperti ini perlu terus dilestarikan dan dikembangkan, terutama di tengah arus modernisasi,” ungkap Usman.

Ia menyebutkan, pertandingan tahun ini diikuti 17 tim dengan total 54 peserta yang berasal dari Kabupaten Karimun, Tanjung Batu, Batam, Tanjungpinang, Kabupaten Siak, Pelalawan, termasuk Penyalai, serta peserta dari Singapura dan Malaysia.

Keterlibatan peserta mancanegara menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Selain kompetisi, kegiatan ini membuka ruang interaksi budaya dan memperkuat hubungan masyarakat serumpun.

Dalam pertandingan tersebut, panitia menghadirkan dua kategori perlombaan, yakni kategori Pangkah dan Uri.

Kategori Pangkah merupakan pertandingan gasing secara beregu atau antartim, sedangkan kategori Uri merupakan perlombaan perorangan yang menguji kemampuan mempertahankan putaran gasing dalam durasi paling lama.

Panitia juga menyediakan hadiah pembinaan perorangan, yakni Rp1 juta untuk juara pertama, Rp800 ribu juara kedua, dan Rp500 ribu juara ketiga.

Sementara untuk kategori juara umum, hadiah yang disiapkan masing-masing Rp15 juta untuk juara pertama, Rp10 juta juara kedua, Rp7,5 juta juara ketiga, dan Rp5 juta juara keempat.

Usman berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, tetapi menjadi bagian dari pembinaan dan pengembangan olahraga tradisional secara berkelanjutan.

Ia juga mendorong Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Karimun untuk semakin aktif mengembangkan berbagai cabang olahraga tradisional agar tetap dikenal dan diminati generasi muda.

Melalui pertandingan ini, Pemerintah Kabupaten Karimun ingin memastikan bahwa warisan budaya tidak sekadar dikenang sebagai bagian dari masa lalu, tetapi tetap hidup, berkembang, dan menjadi identitas yang menyatukan masyarakat.

Di tengah putaran gasing yang saling beradu, tersimpan pesan yang lebih besar, yakni budaya Melayu tetap memiliki ruang untuk tumbuh, sementara persaudaraan lintas daerah dan negara terus terjalin. (Nov)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses