KARIMUN | WARTA RAKYAT – Di tengah derasnya arus digitalisasi dan modernisasi, Pemerintah Kabupaten Karimun menegaskan komitmennya menjaga warisan budaya Melayu agar tidak tergerus perubahan zaman.
Salah satunya melalui penyelenggaraan Pertandingan Gasing dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Karimun ke-27 Tahun 2026.
Mengusung tema “Gasing Berputar, Budaya Terjaga, Dunia Bersaudara”, kegiatan yang digelar Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Karimun ini berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026, di area parkir Hall A Coastal Area Karimun.
Pembukaan dilakukan langsung Bupati Karimun, Ing Iskandarsyah, didampingi Wakil Bupati Rocky Marciano Bawole, serta dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (FKPD) dan pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD).
Bupati Ing Iskandarsyah menegaskan bahwa pertandingan gasing bukan sekadar agenda hiburan dalam rangkaian perayaan hari jadi daerah.

Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur sekaligus upaya menjaga identitas masyarakat Melayu.
“Di era modernisasi dan digitalisasi yang berkembang sangat pesat saat ini, anak-anak dan generasi muda kita semakin lekat dengan gawai serta permainan virtual. Kondisi ini perlahan mulai menggeser keberadaan permainan tradisional yang sesungguhnya sarat dengan nilai-nilai luhur,” ungkap Ing Iskandarsyah.
Menurutnya, permainan gasing memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah dan kebudayaan masyarakat Melayu. Bahkan, Gasing Kepulauan Riau telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
“Gasing bukan sekadar mainan kayu yang berputar. Gasing merupakan warisan budaya takbenda, simbol perekat kebersamaan, sekaligus identitas luhur masyarakat Melayu yang harus kita jaga agar tidak tergerus oleh zaman,” tegasnya.
Bupati juga menguraikan bahwa permainan gasing di tanah Melayu, khususnya Kepulauan Riau, memiliki akar sejarah panjang.

Tradisi tersebut berkembang dari kreativitas masyarakat pesisir yang memanfaatkan sumber daya alam, termasuk buah berembang, sebelum bertransformasi menjadi gasing berbahan kayu pilihan.
Di balik permainan tersebut, tersimpan filosofi tentang keseimbangan hidup, keteguhan, konsentrasi, dan kemampuan menghadapi dinamika kehidupan.
“Melalui pertandingan ini, kita tidak hanya ingin melihat gasing siapa yang paling lama berputar atau paling kuat dalam pertandingan pangkah. Kita ingin sejarah dan identitas ini tetap hidup di dada generasi muda Karimun,” ujarnya.
Ia menambahkan, pelestarian permainan rakyat harus menjadi bagian dari upaya membangun karakter generasi muda sekaligus memperkuat jati diri daerah.
Pertandingan gasing tahun ini diikuti 17 tim dengan total 54 peserta dari berbagai daerah, meliputi Kabupaten Karimun, Tanjung Batu, Batam, Tanjungpinang, Kabupaten Siak, Pelalawan, termasuk Penyalai, serta peserta dari Singapura dan Malaysia.

Keterlibatan peserta lintas daerah dan negara menjadi gambaran bahwa permainan tradisional memiliki daya rekat sosial yang melampaui batas geografis.
Bupati Ing Iskandarsyah menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi, termasuk delegasi dari negara tetangga.
Ia berharap arena pertandingan tidak hanya menjadi tempat menguji ketangkasan, tetapi juga ruang mempererat silaturahmi dan memperkuat persaudaraan masyarakat serumpun.
“Selamat bertanding kepada seluruh peserta. Jaga sportivitas, rekatkan tali silaturahmi, dan jadikan gelanggang ini sebagai tempat memperkuat persaudaraan. Kepada panitia dan tim juri, saya berpesan agar pertandingan dipimpin dengan seadil-adilnya,” pesannya.
Dalam kompetisi tersebut, panitia mempertandingkan dua kategori utama, yakni Pangkah dan Uri.
Kategori Pangkah merupakan pertandingan gasing secara beregu atau antartim yang menguji ketangkasan dan kemampuan dalam menghadapi gasing lawan.
Sementara kategori Uri merupakan kompetisi perorangan yang menitikberatkan pada kemampuan mempertahankan putaran gasing selama mungkin.
Panitia juga menyiapkan hadiah pembinaan perorangan sebesar Rp1 juta untuk juara pertama, Rp800 ribu juara kedua, dan Rp500 ribu juara ketiga.
Adapun kategori juara umum menyediakan hadiah Rp15 juta untuk juara pertama, Rp10 juta juara kedua, Rp7,5 juta juara ketiga, serta Rp5 juta juara keempat.

Melalui penyelenggaraan ini, Pemkab Karimun berharap olahraga tradisional semakin berkembang dan mendapatkan ruang lebih luas di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.
Pada akhirnya, pelestarian gasing bukan hanya tentang mempertahankan sebuah permainan dari masa lalu. Ini merupakan ikhtiar menjaga identitas, merawat nilai-nilai kebudayaan, dan mewariskan kebanggaan Melayu kepada generasi mendatang.
Sejalan dengan visi Kabupaten Karimun untuk mewujudkan daerah yang maju, sejahtera, dan berbudaya, putaran gasing menjadi simbol bahwa kemajuan tidak harus menghapus tradisi. Justru, budaya yang terjaga menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun masa depan daerah. (Nov/Advertorial)






