KARIMUN | WARTA RAKYAT — Dua peristiwa dugaan bunuh diri terjadi dalam sehari di dua wilayah berbeda di Kabupaten Karimun.
Rentetan kasus ini menjadi alarm bahwa persoalan di balik tindakan tersebut tidak selalu dapat dikaitkan dengan tekanan ekonomi, melainkan dapat bersinggungan dengan kondisi psikologis, kesehatan, maupun persoalan kehidupan lainnya.
Kasus pertama terjadi di Kelurahan Pamak, Kecamatan Tebing, sekitar pukul 05.00 WIB, melibatkan pria berinisial YA (40) yang berdasarkan informasi awal kepolisian memiliki riwayat gangguan kejiwaan dan pernah mendapatkan penanganan medis.
Kasus kedua terjadi sekitar pukul 02.00 WIB di Desa Lubuk, Kecamatan Kundur.
Korban berinisial B (80), yang dari keterangan awal diduga mengalami tekanan psikologis berkaitan dengan penyakit menahun yang dideritanya.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karimun, Riadul Afkar, mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat peran agama sebagai fondasi ketahanan diri, keluarga, dan lingkungan sosial.
“Islam mengajarkan kepada kita agar menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Mari kita kembali kepada ajaran agama masing-masing dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. InsyaAllah kita dapat terhindar dari hal-hal yang tidak baik, termasuk bunuh diri,” ujarnya, Jumat (11/9).
Menurut Riadul, pendekatan keagamaan tidak boleh hadir dalam bentuk penghakiman.
Agama justru harus menjadi support system yang memberikan penguatan, pendampingan, dan harapan bagi masyarakat yang tengah menghadapi tekanan maupun dilema kehidupan.
Ia juga mendorong tokoh lintas agama, mubaligh, pemuka agama, dan penyuluh keagamaan untuk aktif menyuarakan gerakan tolak bunuh diri di lingkungan masing-masing.
Tak kalah penting, Riadul menilai Ketua RT dan RW memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam mendeteksi perubahan kondisi warga.
Kepedulian, komunikasi dan interaksi sosial perlu kembali diperkuat agar seseorang yang sedang berada dalam tekanan tidak merasa menghadapi persoalannya seorang diri.
Dua kasus dalam sehari tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan membutuhkan gerakan bersama.
Keluarga, tokoh agama, RT/RW, masyarakat, tenaga kesehatan dan pemerintah harus membangun ekosistem kepedulian yang mampu hadir sebelum sebuah krisis berubah menjadi tragedi.
Sebab, di balik setiap persoalan, selalu ada manusia yang membutuhkan ruang untuk didengar, didampingi dan dikuatkan. (Nov)






