KARIMUN | WARTA RAKYAT — Fenomena El Nino mulai menekan ketersediaan air baku di Kabupaten Karimun.
Sejumlah waduk mengalami penyusutan, dengan kondisi paling serius terjadi di Waduk Tempan, Kecamatan Kundur, yang menjadi sumber utama pelayanan air bersih bagi wilayah tersebut.
Direktur Perumda Tirta Mulia Karimun, Ferry Kurniawan, mengatakan Waduk Tempan merupakan waduk tadah hujan tanpa sumber mata air permanen sehingga sangat bergantung pada curah hujan.
“Waduk Tempan merupakan waduk tadah hujan dan tidak memiliki sumber mata air. Ketika curah hujan sedikit, penyusutannya sangat cepat. Kondisinya sekarang sudah masuk kategori ekstrem,” ujar Ferry, Sabtu (15/8/2026) malam.
Jika kondisi cuaca tidak membaik, distribusi air di wilayah pelayanan Cabang Kundur diperkirakan dihentikan sementara sekitar satu minggu, yang berpotensi berdampak terhadap sekitar 800 sambungan rumah (SR).
Tekanan terhadap sumber air baku juga terjadi di wilayah lain. Waduk Sei Bati menyusut sekitar 3 meter dari kedalaman normal 10 meter.
Waduk Sentani turun sekitar 1 meter dari normal 10 meter, sementara Waduk Pongkar menyusut kurang dari 1 meter dari normal 14 meter.
Di Cabang Kundur Barat, Waduk Layang Sawang menyusut sekitar 1,5 meter dari normal 5 meter.
Sementara Waduk Sido Dadi di Cabang Moro turun sekitar 50–60 sentimeter dari kondisi normal.
Mengantisipasi kondisi yang semakin memburuk, Perumda Tirta Mulia menyiapkan skema distribusi air secara bergilir untuk wilayah dengan sumber air baku yang mengalami penyusutan ekstrem.
“Kalau kondisi terus berlanjut, kami akan melakukan penggiliran distribusi agar air yang tersedia dapat dikelola seefektif mungkin dan pelayanan tetap berjalan,” kata Ferry.
Perumda juga akan berkoordinasi dengan Pemkab Karimun, BPBD, BMKG, BNPB dan BRIN, termasuk mengkaji kemungkinan penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebagai salah satu langkah mitigasi.
Ferry mengimbau masyarakat ikut menjaga ketahanan air dengan menghemat penggunaan dan memakai air sesuai kebutuhan.
“Kami mengimbau masyarakat mulai menghemat air. Gunakan seperlunya karena kondisi sumber air baku harus menjadi perhatian dan tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.
Situasi ini menjadi alarm penting bagi Karimun untuk memperkuat ketahanan sumber air.
Ketika cadangan air baku terus menyusut, efisiensi penggunaan air bukan lagi sekadar imbauan, melainkan kebutuhan bersama. (Nov)






