KARIMUN | WARTA RAKYAT – Kabupaten Karimun bukan sekadar wilayah administratif biasa, melainkan tanah bertuah yang memiliki akar sejarah peradaban yang agung.
Hal tersebut ditegaskan oleh Bupati Karimun, Ing Iskandarsyah, saat menjabarkan makna filosofis di balik identitas Karimun sebagai negeri berazam yang kaya akan warisan sejarah dan budaya.
Menurut Bupati, kata “azam” mencerminkan semangat tinggi dan tekad kuat yang harus senantiasa hidup di dalam diri masyarakat untuk mencintai dan membangun daerah.
Bupati Ing Iskandarsyah mengingatkan bahwa perjalanan sejarah Karimun jauh membentang melampaui era kemerdekaan, melibatkan rangkaian kejayaan kesultanan masa lampau.
Kesadaran historis inilah yang mendorongnya menuangkan rekam jejak tersebut ke dalam sebuah karya tulis berjudul The Glory of the Past.
“Karimun ini luar biasa, bukan hanya zaman kemerdekaan kita sampai sekarang, tetapi sebelum kita juga, inilah rangkaian dari kejayaan kesultanan kita sebenarnya. Maka saya menulis buku namanya The Glory of the Past. Kita punya kejayaan masa lalu, kenapa kita tak mampu untuk membangun kejayaan masa depan?” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Ia menekankan bahwa pengalaman dan kejayaan masa lalu harus dijadikan bahan bakar optimisme guna merancang masa depan Karimun yang lebih gemilang.
Dalam pandangannya, pembangunan daerah tidak bisa dilepaskan dari penguatan unsur budaya dan peradaban (civil society).
Saat menjabat sebagai pimpinan DPRD, ia turut mengawal lahirnya Perda Lembaga Adat Melayu dengan menempatkan budaya sebagai bagian integral dari visi pembangunan berkarakter.
“Budaya itu apa sebenarnya? Civil society, peradaban, karena nanti intinya adalah bagaimana kita punya karakter, punya adab, ya, di samping kita punya adat. Kalau punya adat tapi enggak punya adab, susah,” tegas Bupati Ing Iskandarsyah.
Lebih lanjut, ia menguraikan esensi filosofis dari ungkapan “tak Melayu hilang di bumi”. Menurutnya, istilah “Melayu” dalam konteks peradaban merujuk pada konsep nation (bangsa) yang inklusif, bukan sekadar suku sempit.
Ia lantas mengingatkan rangkaian frasa utuh dari pepatah lama agar spirit regenerasi dan kelangsungan identitas tetap terjaga “Tuah sakti hamba negeri, esa hilang dua terbilang, patah tumbuh hilang berganti, tak Melayu hilang di bumi.”
“Sering kita bilang ‘tak Melayu hilang di bumi’. Nah, tapi kita lupa rangkaian-rangkaian kata-kata sebelumnya, frasa sebelumnya yaitu Tuah Sakti Hamba Negeri, Esa Hilang Dua Terbilang, Patah Tumbuh Hilang Berganti, Tak Melayu Hilang di Bumi. Supaya tak hilang dia, apa? Patah tumbuh hilang berganti. Harus ada regenerasi,” jelas Bupati Ing Iskandarsyah.
Bupati menegaskan komitmen kuat pemerintah daerah untuk memutus mata rantai kesulitan ekonomi bagi generasi mendatang.
Ia menyatakan bahwa seorang pemimpin memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan kesejahteraan, bukan kemiskinan, yang diwariskan kepada anak cucu.
Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai spiritual melalui interaksi dengan Al-Qur’an ditempatkan sebagai fondasi utama dalam membangun masyarakat madani di Bumi Berazam.
“Saya tidak ingin mewariskan kemiskinan buat anak cucu kita. Jadi kita sekarang ini bicara tentang Al-Qur’an, itulah bagian dari rangkaian kita membangun peradaban itu, membangun civil society atau masyarakat madani. Karena Karimun, dia bukan negeri yang miskin, dia negeri yang kaya sebenarnya,” pungkas Bupati Ing Iskandarsyah. (Nov)





