Melayu Tak Hilang di Dunia, Seniman Malaysia Puji Karimun Taja Tari 2026

Fatih Mohtar, seniman dari Sanggar Budaya Seri Bulan, Kuala Lumpur, Malaysia. FOTO: Nov/WARTA RAKYAT

KARIMUN | WARTA RAKYAT — Karimun Taja Tari 2026 mendapat apresiasi dari pelaku seni Malaysia.

Fatih Mohtar, seniman dari Sanggar Budaya Seri Bulan, Kuala Lumpur, Malaysia, menyebut festival di Karimun sebagai ruang istimewa yang mempertemukan penggiat seni dan aktivis budaya dari kawasan Nusantara.

Bacaan Lainnya

Bagi Fatih, kehadiran di Karimun Taja Tari 2026 menjadi pengalaman pertama. Ia mengaku tertarik karena festival tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan, tetapi juga membuka ruang perjumpaan bagi pelaku seni untuk bersama-sama mengangkat martabat budaya Melayu.

“Bagi saya, ianya sangat luar biasa kerana acara beginilah yang menghimpunkan penggiat-penggiat seni dan aktivis dari seluruh negara Nusantara, yang menyarakkan budaya dan memartabatkan budaya berkumpul di sini,” ujar Fatih, Sabtu (289/8).

Fatih mengatakan kehadirannya di Karimun kali ini merupakan undangan dari jejaring seni yang mengajaknya turut memeriahkan Taja Tari 2026.

Sebelumnya, ia pernah datang ke Karimun dalam kegiatan Pelangi Budaya, namun baru kali ini mengikuti langsung perhelatan Taja Tari.

Ia juga memberikan apresiasi khusus terhadap sosok Ahadian Zulseptriadi, yang dinilainya memiliki komitmen kuat dalam mempertemukan generasi lama dan generasi muda melalui seni budaya.

“Dia seorang yang kental, yang bersemangat untuk memartabatkan seni budaya kepada generasi-generasi muda. Saya lihat dia antara tokoh figura yang menyatukan seni budaya ini antara generasi-generasi muda lama dan baru,” kata Fatih.

Menurutnya, upaya mempertemukan berbagai kelompok seni dalam satu panggung berskala besar merupakan sesuatu yang tidak mudah dilakukan.

Karimun Taja Tari, kata dia, memiliki potensi berkembang menjadi perhelatan budaya yang semakin luas.

“Ini perkara yang jarang orang boleh lakukan untuk menyatukan penglibatan-penglibatan seni budaya ini dalam satu acara yang boleh dikatakan bertaraf dunia,” ujarnya.

Lebih jauh, Fatih berharap Taja Tari tidak berhenti pada penyelenggaraan tahun ini. Ia mendorong agar festival tersebut terus dikembangkan dengan melibatkan lebih banyak negara Nusantara.

“Harapan saya program sebegini harus diteruskan supaya adanya acara sebegini, kita dapat melahirkan generasi-generasi baru untuk memartabatkan seni budaya tari Melayu ini, seperti zapin, joget, inang dan sebagainya,” katanya.

Ia bahkan membayangkan Taja Tari ke depan dapat menjadi panggung budaya Nusantara yang lebih besar, sehingga seni Melayu tidak hanya hidup di satu wilayah, tetapi dikenal hingga dunia.

“Biar dunia lihat bahawa Melayu tidak akan hilang di dunia,” tegas Fatih.

Karimun Taja Tari 2026 berlangsung 27–29 Agustus 2026 di Panggung Putri Kemuning, Coastal Area Karimun. Festival ini dikemas sebagai ruang perjumpaan seni, kreativitas dan budaya serumpun.

Kompetisi tidak hanya diikuti peserta dari Kabupaten Karimun, tetapi juga melibatkan sejumlah daerah seperti Pelalawan, Bintan, Tanjungpinang dan Kepulauan Meranti.

Dua kompetisi utama, Lomba Tari Tradisi Melayu dan Lomba Tari Joget Kreasi, menjadi ruang bagi generasi muda untuk menjaga akar tradisi sekaligus mengembangkan kreativitas.

Kekuatan Taja Tari juga diperluas melalui keterlibatan seniman dan kelompok seni dari Indonesia, Malaysia dan Singapura. Pertemuan lintas negara tersebut menjadi medium pertukaran budaya sekaligus memperkuat hubungan masyarakat serumpun melalui bahasa universal seni.

Malam puncak digelar Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 19.30 WIB, dengan agenda Opening Ceremony utama, kolaborasi seniman Indonesia-Singapura-Malaysia serta penampilan spesial Al Hafiz.

Dukungan Bupati Karimun Ing Iskandarsyah dan Wakil Bupati Rocky Marciano Bawole, turut memperkuat arah pengembangan seni dan budaya sebagai bagian dari ekosistem pariwisata serta ekonomi kreatif daerah.

Dari Kuala Lumpur, pesan Fatih menjadi penegasan bahwa panggung Karimun mulai dilihat bukan sekadar sebagai festival lokal.

Di atas panggung Taja Tari, batas negara mencair. Tradisi bertemu kreativitas, generasi bertemu generasi dan Melayu kembali menemukan panggungnya. (Nov)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses