KARIMUN | WARTA RAKYAT — Karimun Taja Tari 2026 mendapat apresiasi dari pelaku seni Singapura.
Bagi Osman Bin Abdul Hamid dari Era Dance Theatre Ltd, Singapore, festival ini bukan sekadar kompetisi tari, melainkan ruang penting untuk membangkitkan semangat generasi muda sekaligus menjaga kesinambungan seni dan budaya serumpun.
Osman menilai kekuatan Taja Tari terletak pada keberanian mempertemukan tradisi dengan kreativitas generasi muda.
Menurutnya, inovasi tetap harus memiliki akar budaya yang kuat agar seni tidak kehilangan identitasnya.
“Saya rasa menarik kerana kita harus membangkitkan semangat generasi-generasi muda dan mengenalkan, menggabungkan mereka dalam satu tujuan yang suci. Bagi saya, itu melestarikan lagi seni dan budaya ke depan,” ujarnya, Sabtu (29/8/2026).
Ia mengatakan keikutsertaannya di Taja Tari 2026 bukan pengalaman pertamanya berkunjung ke Karimun.
Sebelumnya, ia telah hadir dalam sejumlah festival budaya di daerah tersebut.
Kali ini, Osman datang memenuhi undangan Ahadian Zulseptriadi, sosok yang menurutnya telah lama dikenalnya dalam perjalanan dunia seni Karimun.
“Kami diundang oleh Ahadian. Dari Singapura selalu memberikan sokongan apa pun bentuk festival yang Ahadian anjurkan,” katanya.
Osman juga memiliki catatan tersendiri mengenai Ahadian Zulseptriadi. Ia mengenal Ahadian sejak masih menjadi penari, jauh sebelum kemudian berkembang menjadi koreografer dan dipercaya memimpin produksi seni berskala lebih besar.
Menurut Osman, perjalanan tersebut menunjukkan konsistensi dan semangat Ahadian dalam dunia seni.
“Saya kenal beliau semasa dia masih lagi seorang penari, belum lagi seorang koreografer. Saya lihat semangatnya sangat kental sekali dan wajarlah dia diberikan tanggungjawab untuk memimpin sebuah festival,” ungkapnya.
Bagi Osman, perjalanan seorang pekerja seni dari penari hingga menjadi pengarah artistik merupakan proses panjang yang membutuhkan ketekunan sekaligus keberanian mengambil tanggung jawab.
Taja Tari 2026 sendiri berlangsung pada 27–29 Agustus 2026 di Coastal Area Tanjung Balai Karimun.
Festival ini mempertemukan peserta dari Karimun dan sejumlah daerah lain, di antaranya Pelalawan, Bintan, Tanjungpinang dan Kepulauan Meranti.
Dua kompetisi utama, Lomba Tari Tradisi Melayu dan Lomba Tari Joget Kreasi, menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkompetisi sekaligus mengembangkan kreativitas tanpa tercerabut dari akar tradisi.
Osman menilai konsep tersebut menjadi salah satu kekuatan festival.
“Walaupun kreasi, tapi dia harus berakarkan pada tradisi yang kuat. Ya, menarik bagi saya,” ujarnya.
Lebih jauh, ia berharap Taja Tari tidak berhenti sebagai sebuah agenda, tetapi terus berkembang menjadi festival yang mampu menghimpun semakin banyak energi seni dari kawasan serumpun.
“Ke depan, ini semangat yang harus dirangsangkan lagi. Harus buat lebih banyak festival seperti ini untuk merangkul semua tenaga seni di atas pentas. Mungkin akan lebih mengembangkan sayapnya Festival Taja Tari ini,” kata Osman.
Semangat itu menemukan bentuknya melalui keterlibatan seniman dari Indonesia, Malaysia dan Singapura.
Pertemuan tersebut menjadikan Taja Tari bukan hanya panggung pertunjukan, tetapi juga ruang pertukaran budaya masyarakat serumpun.
Malam puncak Taja Tari 2026 digelar Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 19.30 WIB, di Panggung Putri Kemuning,
Coastal Area Karimun. Panggung akan diisi kolaborasi seniman tiga negara serta penampilan spesial Al Hafiz.
Pelaksanaan festival juga mendapat dukungan Bupati Karimun Ing Iskandarsyah dan Wakil Bupati Rocky Marciano Bawole, sebagai bagian dari penguatan seni budaya, pariwisata dan ekonomi kreatif daerah.
Bagi Karimun, pesan Osman menjadi lebih dari sekadar apresiasi dari tamu mancanegara, yakni ketika tradisi diberi ruang kepada generasi muda dan dibuka untuk kolaborasi lintas negara, panggung budaya dapat berubah menjadi jembatan yang mempertemukan identitas, kreativitas dan masa depan. (Nov)






