2.216 Calon Siswa Tidak Tertampung, Nurdin Beri Solusi Tambah RKB

519
Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun bersama Walikota Batam, Rudi dan Kepala Dinas Pendidikan, Muhammad Dali di Batam, Senin (8/7/2019) f-net

TANJUNGPINANG | Warta Rakyat — Sebanyak 2.216 calon peserta siswa SMA/SMK di Batam tidak tertampung di sekolah negeri pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini.

Gubernur Kepulauan Riau, Nurdin Basirun mengatakan, untuk mengatasi permasalahan tersebut salah satu solusi yang bisa dilakukan pemerintah daerah ialah menambah Ruang Kelas Baru (RKB)

“Rencananya tiap-tiap SMA/SMK di Batam kita tambah dua lokal baru. Supaya semuanya bisa tertampung di sekolah negeri,” kata Nurdin Basirun di Batam, Senin (8/7).

Selain menambah RKB, Nurdin berharap agar adanya dukungan dari semua pihak, terutama masyarakat yang memiliki lahan agar dapat merelakan untuk pembangunan sekolah.

Pasalnya, tahun depan Pemprov Kepri juga berencana akan menambah sekolah baru.

Khususnya di batam, kata Nurdin, ada empat wilayah prioritas pembangunan SMA.

“Harapan kita ke depan persoalan PPDB ini tidak terulang lagi,” sebutnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kepri, Muhammd Dali  meminta para orangtua tetap bersabar karena ada beberapa tahapan yang akan dilakukan untuk menangani persoalan siswa yang tidak tertampung tersebut.

Menurutnya, saat ini pada sekolah tertentu terjadi penumpukan, misalnya di SMA Negeri 3 Batam ada 523 siswa yang belum tertampung.

Penumpukan juga terjadi di SMA 23 Batam, ada 500 siswa yang belum tertampung.

Meski demikian, lanjutnya, ada solusi yang ditawarkan disana lantaran ada bangunan yang bisa ditumpangi. Kepala Sekolah dan warga jamin minimal ada lima lokal tambahan.

“Kata kunci dari Pak Gubernur yakni pertama minimal menambah dua lokal. Kedua menyesuaikan dengan situasi,” ungkapnya.

Tahap ketiga, sambung Dali, adalah bebas zonasi yang dibuat dalam sistem. Semula di Batam ada delapan zonasi dibagi menjadi empat.

Ia menyarankan pendaftar yang menuju tempat sekolah jalur padat, bergeser ke zonasi sebelah yang barangkali jumlah di situ tidak terlalu banyak.

“Misalnya di SMA N 3 Batam ke SMA N 15 yang memang kurang 70 siswa. Jika ditambah dua lokal jadi semakin ringan,” tungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.