KARIMUN | WARTA RAKYAT – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Tanjung Balai Karimun terus mempertegas komitmennya dalam menghadirkan tata kelola pelayanan publik yang inklusif dan akuntabel.
Langkah progresif ini diwujudkan melalui peluncuran program berkala “Sapa Masyarakat”, sebuah ruang dialog terbuka yang didesain untuk menyerap aspirasi, kritik, serta saran dari pengguna layanan tanpa barikade birokrasi.
Pada Senin (22/06), suasana di Ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Rutan Karimun tampak berbeda.
Kepala Rutan Karimun, Yoga Hadhi Wijaya, didampingi jajaran strukturalnya, turun langsung berinteraksi dengan keluarga Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Agenda mingguan ini menjadi jembatan komunikasi dua arah yang menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai objek layanan, melainkan mitra evaluasi.
“Melalui Program Sapa Masyarakat ini, kami ingin memastikan bahwa setiap suara dari masyarakat benar-benar didengar, ditindaklanjuti, dan menjadi fondasi utama dalam perbaikan layanan kami. Tidak ada batasan atau sekat birokrasi; keluarga WBP berhak menyampaikan apa saja yang menjadi perhatian mereka,” ujar Yoga Hadhi Wijaya.
Dalam dialog yang berlangsung humanis tersebut, masyarakat memanfaatkan momentum untuk menyampaikan beragam pandangan.
Mulai dari efisiensi alur administrasi, optimalisasi fasilitas ruang tunggu, hingga ekspektasi terhadap akselerasi waktu pelayanan.
Alih-alih bersikap defensif, jajaran manajemen Rutan Karimun menyambut setiap feedback secara terbuka.
Pendekatan persuasif dan solutif yang diterapkan dalam merespons keluhan pengunjung merefleksikan kematangan institusi dalam mengimplementasikan prinsip good governance.
Seluruh aspirasi yang terjaring dalam program ini dipastikan tidak akan menguap begitu saja. Manajemen Rutan Karimun menegaskan bahwa resume dari dialog mingguan ini akan dikonversi menjadi data autentik untuk bahan evaluasi internal rutin.
Yoga Hadhi Wijaya menjelaskan, fokus utama program “Sapa Masyarakat” dengan target capaian memangkas jarak komunikasi antara pembuat kebijakan dan masyarakat.
Selain itu, menjadikan keluhan langsung sebagai dasar perbaikan fasilitas dan sistem.
Kemudian, menutup celah malpraktik pelayanan melalui pengawasan publik secara langsung.
Langkah taktis yang diinisiasi oleh Rutan Karimun ini menjadi preseden positif dalam ekosistem pemasyarakatan.
“Dengan konsistensi menjalankan program “Sapa Masyarakat”, Rutan Karimun tidak hanya sekadar mengejar predikat pelayanan prima secara administratif, melainkan berhasil membangun legitimasi dan kepercayaan publik yang kokoh,” ungkap Yoga Hadhi Wijaya. (Nov)






