KARIMUN | WARTA RAKYAT – Tradisi beradu gasing kembali menjadi panggung pelestarian budaya sekaligus perekat persaudaraan lintas daerah dan negara.
Dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Karimun ke-27 Tahun 2026, pertandingan gasing tradisional akan digelar pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 di area parkir Hall A Coastal Area Karimun.
Mengusung semangat “Gasing Berputar, Budaya Terjaga, Dunia Bersaudara”, ajang ini tidak sekadar menghadirkan kompetisi permainan tradisional, tetapi juga menjadi momentum untuk menjaga warisan budaya Melayu agar tetap hidup dan dikenal lintas generasi.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Kadispora) Kabupaten Karimun, Usman, diharapkan menjadi salah satu penggerak penting dalam menyukseskan kegiatan tersebut, terutama dalam memperkuat peran olahraga tradisional sebagai bagian dari identitas budaya daerah.
“Pertandingan gasing ini bukan hanya tentang siapa yang paling tangkas di arena. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk melestarikan warisan budaya, mempererat silaturahmi, serta memperkenalkan kekayaan tradisi Karimun kepada masyarakat yang lebih luas,” ujarnya, Kamis (29/10) sore.
Antusiasme terhadap pertandingan ini terlihat dari daftar sementara pendaftar yang telah mencapai 24 tim.
Peserta berasal dari Kabupaten Karimun, Tanjungpinang, wilayah Kepulauan Riau lainnya, Provinsi Riau, hingga perwakilan Malaysia dan Singapura.
Sejumlah tim yang tercatat antara lain Lang Orange, Gunung Jantan, KORMI Kabupaten Karimun, Kopi Pahit dari Tanjungpinang, Pangkah Sulung dari Kabupaten Pelalawan, serta Laksemana Siak dari Provinsi Riau.
Nama-nama lain yang masuk daftar sementara meliputi Inhil A dan Inhil B, 3 Suku Penyalai, Pangkah Sundul Penyalai, Parasgantang A dan B, serta tiga tim Pink Panther dari Tanjung Batu.
Partisipasi dari luar negeri juga menambah daya tarik kompetisi, dengan tercatatnya DMDI Malaysia, Persatuan Gasing Malaysia (PEGAMA), Singapura, dan tim 3 Negara Bersatu dalam daftar sementara peserta.
Usman menyampaikan, kehadiran para peserta tersebut berpotensi menjadikan pertandingan gasing ini sebagai ruang pertemuan budaya yang melampaui batas geografis, sekaligus memperkuat posisi Karimun sebagai daerah yang terbuka terhadap kegiatan kebudayaan dan olahraga tradisional.
Masyarakat diundang untuk menyaksikan langsung atraksi gasing tradisional yang memadukan keterampilan, ketangkasan, strategi, dan nilai kebersamaan.
“Pelestarian permainan tradisional bukan semata-mata upaya mempertahankan peninggalan masa lalu. Tradisi tersebut juga menjadi bagian dari identitas masyarakat yang perlu diwariskan kepada generasi muda melalui kegiatan yang menarik dan kompetitif,” ungkapnya.
Pertandingan gasing dalam rangka HUT ke-27 Kabupaten Karimun ini diharapkan menjadi lebih dari sekadar hiburan perayaan.
Di tengah perkembangan zaman, putaran gasing menjadi simbol bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat, nilai, dan daya tarik untuk menyatukan masyarakat lintas daerah hingga mancanegara. (Nov).






