KARIMUN | WARTA RAKYAT – Pemadaman listrik total (blackout) yang melanda Tanjung Balai Karimun, Jumat (9/10/2026), dipicu gangguan teknis berupa underfrequency atau penurunan frekuensi pada sistem jaringan kelistrikan 20 kV.
Gangguan tersebut mengaktifkan sistem proteksi otomatis hingga menyebabkan sejumlah mesin pembangkit dan penyulang terlepas dari jaringan.
Manager PLN ULP Tanjung Balai Karimun, Suheri, menjelaskan bahwa penurunan frekuensi pada sistem kelistrikan yang menghubungkan pasokan dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) memicu bekerjanya relai pengaman.
Mekanisme proteksi tersebut membuat mesin-mesin pembangkit mengalami trip atau terlepas dari sistem untuk mengamankan instalasi kelistrikan.
Dampaknya, gangguan meluas hingga menyebabkan padam total di wilayah Tanjung Balai Karimun.
“Gangguan ini dipicu oleh penurunan frekuensi pada sistem kelistrikan. Sistem proteksi bekerja secara otomatis untuk mengamankan jaringan sehingga berdampak pada terhentinya pasokan listrik ke pelanggan,” ujar Suheri, Jumat (9/10) sore.
Dikatakannya, pemadaman mulai terjadi sekitar pukul 05.35 WIB. Tim teknis PLN bersama petugas unit pembangkit kemudian melakukan pemeriksaan dan pemulihan sistem secara bertahap setelah memastikan kondisi jaringan aman.
Proses normalisasi dilakukan pada sisi PLTD, PLTU, dan jaringan penyaluran. Seluruh sistem kelistrikan Karimun dilaporkan kembali normal sekitar pukul 12.00 WIB.
“Manajemen PLN menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat gangguan tersebut. Evaluasi dan investigasi teknis juga dilakukan untuk mengidentifikasi faktor pemicu serta memperkuat keandalan sistem kelistrikan,” kata Suheri.
Suheri menyebut, gangguan tersebut bukan disebabkan kekurangan pasokan listrik.
Berdasarkan data yang disampaikan, daya mampu kelistrikan Karimun mencapai 42 megawatt (MW), sementara beban puncak tertinggi berada di kisaran 36 MW.
Dengan demikian, tersedia cadangan daya sekitar 6 MW.
“Kondisi tersebut menegaskan bahwa blackout terjadi akibat gangguan teknis pada sistem kelistrikan, bukan karena defisit daya maupun pemadaman bergilir yang direncanakan,” ucap Suheri.
Meski pasokan telah pulih, investigasi dan evaluasi menyeluruh menjadi penting untuk memastikan penyebab teknis penurunan frekuensi dapat diidentifikasi secara tepat serta langkah mitigasi diterapkan.
Keandalan listrik tidak hanya ditentukan oleh kecukupan daya, tetapi juga kestabilan frekuensi, koordinasi antarpembangkit, dan respons sistem proteksi.
Karena itu, penanganan gangguan menjadi bagian penting dalam menjaga kontinuitas pasokan listrik bagi masyarakat dan aktivitas ekonomi di Karimun. (Nov)




