Tangisan Kakak Robinson Silaban Pecah Saat Peti Jenazah Ditutup, Bunga: Gak Ada Lagi Kawanku Dek

13180
Sejumlah keluaraga saat mengebumikan jenazah Ronaldo Robinson Silaban, Senin (3/2)

TANJUNGPINANG | Warta Rakyat – Tangisan Bunga Silaban, kakak kedua dari Robinson Silaban pecah dan histeris saat dilakukan agenda penutupan peti jenazah oleh Pendeta Ressort HKBP Nommensen Kota Piring, Deser Nababan, di rumah duka, jalan Garuda Tanjungpinang, Senin (3/2).

Bahkan, sepanjang jalan saat mengantarkan jenazah Robinson Silaban ke peristirahatan terakhirnya di Bt 15 Tanjungpinang, ia serta kakaknya Liza Silaban dan ibunda boru Lumbantoruan tak kuasa menahan kesedihan.

Baca juga: 

Sebelum dimasukkan kedalam peti jenazah, pada Minggu malam, Bunga Silaban, ibunda serta saudara lainnya juga memeluk jenazah korban.

Ronaldo Robinson Silaban (17), merupakan anak bungsu dari lima bersaudara yang kini tidak lagi dilihat untuk selamanya.

Robinson Silaban, salah satu dari 3 pelajar korban meninggal dunia akibat ganasnya terjangan ombak di pantai Trikora, Desa Malang Rapat, Kecamatan Gunung Kijang, Kabupaten Bintan, Minggu (2/2).

Canda tawa yang dulunya akrab dan ramai akan berubah hening setelah kepergian Robinson.

Kini, kenangan baik bersama Robinson hanya memori bagi keluarga, kerabat dan teman teman dekatnya.

“Cepat kali kau pergi ito, cepat kali kau pergi dek,” sedih Bunga Silaban saat peti jenazah dimasukan kedalam mobil ambulance.

“Gak ada lagi adekku, gak ada lagi kawanku,” sebutnya lagi berulang-ulang.

Tidak hanya Bunga, tangis haru juga menyelimuti kakak tertua Robinson, Liza Silaban.

“Gak ada kawanku lagi dek, kenapa cepat kali kau pergi dek’ku,” haru Liza Silaban dengan uraian air mata.

Sebelumnya juga dikabarkan, sejak jenazah tiba dirumah duka, ibunda korban Boru Lumbantoruan tak henti-hentinya memeluk jenazah korban.

Sang ibu belum percaya, jika anaknya telah tiada.

“Jangan tinggalkan Ibu nak. Kenapa seperti ini..Kalau Ibu tau kau pergi ke Trikora, aku tentu tidak akan mengizinkan,” sebut Ibu almarhum Robinson Silaban, Minggu (2/2) malam.

Selain itu, sejumlah guru juga melayat almarhum Robinson Silaban yang dikenal baik dan tengah duduk di bangku kelas 3 SMP Negeri 7 Tanjungpinang itu.

Melly Roza, salah seorang guru Matematika SMP Negeri 7 saat di rumah duka mengatakan, bahwa ibu Robinson tidak tahu kalau tujuan pamitnya, ke Trikora. Melainkan pamit ke Hotel Bali, hendak berenang dengan teman sekolahnya.

“Kalau pamitnya ke Trikora, saya tidak akan izinkan,” sebut ibunya ke Melly Roza

Robinson Silaban, merupakan salah satu dari 3 korban yang ditemukan meninggal dunia pada Minggu sore akibat digulung ombak.

Sebelumnya, Delon Nofriandito Simanjuntak ditemukan dengan selamat.

Selain Robinson Silaban, Haikal Fatra dan Sofyan Ramadhan juga ditemukan pada Selasa (4/2) oleh Tim SAR Gabungan dalam kondisi tidak bernyawa.

Diketahui, Pantai Trikora memiliki jarak tempuh sekitar 45 Kilometer dari pusat Kota Tanjungpinang.

Hampir setiap tahun kawasan wisata yang dikelola oleh masyarakat setempat itu menelan korban jiwa.

Syahrul Kunjungi Keluarga Almarhum Robinson Silaban di Rumah Duka

Walikota Tanjungpinang Syahrul, mengunjungi rumah kediaman orangtua Ronaldo Robinson Silaban.

Kunjungan yang dilakukannya pada Senin (3/2) pagi bentuk belasungkawa dirinya dan Pemerintah.

Musibah ini, dinilai Syahrul, pelajaran bagi semua agar lebih berhati-hati saat mandi atau berenang di pantai.

“Sebagai bentuk belasungkawa ayah khususnya pemerintahan atas musibah yang menimpa keluarga almarhum,” ucapnya usai mendatangi rumah duka.

Syahrul juga meminta kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Tanjungpinang untuk lebih meningkatkan pengawasan dan pengamanan di wilayah Pantai Trikora, Kabupaten Bintan.

“Kejadian seperti ini bukan sekali ini saja terjadi. Hampir tiap tahun pasti ada kejadian seperti ini hingga memakan korban jiwa. Sebab itulah hal ini menjadi atensi bagi kita semua tidak hanya kepada petugas Basarnas,” katanya.

Selain itu, Syahrul juga mengingatkan peran orang tua dalam pengawasan anak saat berlibur ke Pantai Trikora.

“Senantiasa awasi anak-anaknya saat berlibur atau bermain di Pantai Trikora dengan kondisi cuaca seperti ini,” terangnya.

Syahrul berharap tidak ada lagi kejadian serupa terjadi dikemudian hari. Saat mengunjungi rumah duka, ia memberikan santunan.

“Setidaknya dapat meringankan beban keluarga korban,” tutupnya.

Pewarta : Frengki
Editor.    : Lestari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.