KARIMUN | WARTA RAKYAT – Dua kali gangguan kelistrikan dalam kurun lima hari yang melanda Tanjung Balai Karimun menjadi perhatian serius Pemerintah Kabupaten Karimun.
Bupati Karimun, Ing Iskandarsyah, menyoroti usia mesin pembangkit yang sudah tua serta persoalan perencanaan infrastruktur kelistrikan yang dinilai belum optimal.
Bupati mengungkapkan, potensi gangguan pasokan listrik sebenarnya telah diprediksi mengingat sejumlah mesin pembangkit yang digunakan PLN telah beroperasi dalam waktu cukup lama.
“Persoalan kelistrikan ini sebenarnya sudah kita prediksi karena mesin-mesin yang digunakan sudah berusia lama. Kejadian ini harus menjadi pembelajaran agar perencanaan dan pembangunan infrastruktur kelistrikan ke depan lebih baik,” ujar Ing Iskandarsyah, Selasa (13/10/2026).
Menurutnya, persoalan yang terjadi saat ini bukan muncul secara tiba-tiba, melainkan berpotensi menjadi akumulasi dari kekurangan perencanaan pada masa sebelumnya.
“Permasalahan ini mungkin merupakan dampak dari kurangnya perencanaan di masa lalu. Karena itu, harus terus kita perbaiki agar PLN dapat bekerja lebih optimal dan masyarakat memperoleh pelayanan listrik yang andal,” tegasnya.
Sebagai langkah strategis, Pemerintah Kabupaten Karimun telah berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk mendorong penguatan pasokan listrik, termasuk membuka peluang investasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
Selain itu, pemerintah daerah turut mendorong PT Soma agar segera merealisasikan suplai listrik guna memperkuat kapasitas kelistrikan Karimun.
“Pemerintah daerah terus berkoordinasi dengan Kementerian ESDM dan mendorong pihak-pihak yang berminat membangun PLTS. PT Soma juga kita dorong agar segera dapat menyuplai listrik,” jelasnya.
Untuk solusi jangka panjang, Ing Iskandarsyah mengungkapkan adanya rencana integrasi sistem kelistrikan dari Sumatra yang ditargetkan sekitar 2029. Langkah tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi Kabupaten Karimun.
Sebelumnya, pemadaman listrik total atau blackout melanda Tanjung Balai Karimun pada Jumat (9/10/2026), sekitar pukul 05.35 WIB. Pasokan listrik baru kembali normal secara menyeluruh sekitar pukul 12.00 WIB.
Manager PLN ULP Tanjung Balai Karimun, Suheri, menjelaskan gangguan tersebut dipicu kondisi underfrequency atau penurunan frekuensi pada sistem kelistrikan 20 kV yang menghubungkan pasokan PLTD dan PLTU.
Kondisi itu mengaktifkan relai proteksi otomatis sehingga sejumlah mesin pembangkit mengalami trip atau terlepas dari jaringan untuk melindungi instalasi kelistrikan. Dampaknya, pemadaman meluas hingga menyebabkan blackout.
Belum genap sepekan, gangguan kembali terjadi pada Selasa (13/10/2026), sekitar pukul 01.00 WIB.
Suheri menyampaikan bahwa berdasarkan informasi awal, pemadaman terjadi setelah adanya petir. Petugas PLN kemudian melakukan penanganan gangguan, termasuk mempersiapkan material pengganti dan memulihkan pasokan listrik secara bertahap.
Pada pukul 08.00 WIB, sebagian wilayah dilaporkan telah kembali menyala. PLN semula mengupayakan pemulihan menyeluruh sekitar pukul 10.00 WIB, namun proses membutuhkan waktu lebih panjang karena menunggu kesiapan pasokan dari PLTU.
Hingga pukul 11.00 WIB, sekitar 75 persen sistem kelistrikan telah kembali normal.
“Mohon maaf belum bisa lebih cepat. Kami masih menunggu kesiapan suplai daya dari PLTU. Proses starting PLTU tidak secepat mesin diesel,” jelas Suheri.
PLN akhirnya memastikan seluruh sistem kelistrikan kembali normal pada pukul 12.00 WIB.
Rangkaian gangguan tersebut menegaskan pentingnya percepatan pembenahan infrastruktur pembangkit, penguatan cadangan daya, serta diversifikasi sumber energi guna menjaga keandalan pasokan listrik di Kabupaten Karimun.
Pemerintah daerah berharap koordinasi dengan PLN, pemerintah pusat, dan calon investor dapat menghasilkan solusi konkret agar gangguan kelistrikan tidak terus berulang dan menghambat aktivitas masyarakat maupun perekonomian daerah. (Nov)






