KARIMUN | WARTA RAKYAT — Memasuki usia ke-27 tahun sebagai daerah otonom, Kabupaten Karimun berada pada momentum penting untuk berbenah, menuntaskan persoalan mendasar, dan memastikan pembangunan berjalan dengan orientasi yang jelas, yakni kepentingan masyarakat.
Bupati Karimun, Ing Iskandarsyah, menegaskan bahwa hari jadi daerah bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat komitmen, mengevaluasi kekurangan, dan menghadirkan kerja nyata bagi masyarakat.
“Di usia ke-27 tahun ini, kita tidak boleh hanya berbicara tentang apa yang sudah dibangun, tetapi juga harus berani melihat apa yang belum kita selesaikan. Karimun harus terus berbenah, memperbaiki kekurangan, dan memastikan pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegas Ing Iskandarsyah, Selasa (13/10/2026).
Di bawah kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Rocky Marciano Bawole, sejumlah pekerjaan rumah menjadi perhatian pemerintah daerah.
Mulai dari kondisi keuangan daerah, kewajiban pembayaran yang tertunda, pengelolaan sampah, hingga peningkatan kualitas pelayanan dasar, seluruhnya membutuhkan penanganan terukur dan komitmen berkelanjutan.
Bupati menekankan, pembangunan tidak cukup hanya dengan menghadirkan program baru atau membangun infrastruktur.
Pembenahan tata kelola, penyelesaian persoalan yang tertunda, serta peningkatan kualitas pelayanan publik harus menjadi bagian penting dari agenda pembangunan daerah.
“Prioritas kita adalah membenahi apa yang masih menjadi persoalan, memperkuat tata kelola pemerintahan, dan meningkatkan pelayanan publik. Pemerintah harus hadir, bekerja, dan memberikan solusi. Kita ingin masyarakat merasakan langsung hasil pembangunan, bukan sekadar mendengar janji,” ujarnya.
Ing Iskandarsyah juga mengajak seluruh ASN, tokoh agama, tokoh adat, lembaga masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat persatuan dan mengambil bagian dalam pembangunan Karimun.
“Membangun Karimun bukan pekerjaan satu orang atau satu kelompok. Ini tanggung jawab kita bersama. Saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergandeng tangan, menjaga persatuan, dan mengisi setiap kekurangan dengan karya nyata demi Karimun yang maju, sejahtera, dan berbudaya,” katanya.
Mengusung semangat “Dari Pemekaran, Menuju Masa Depan”, usia ke-27 Karimun menjadi pengingat bahwa perjalanan pembangunan harus bergerak melampaui capaian masa lalu, dengan keberanian membenahi persoalan hari ini dan konsistensi menyiapkan masa depan.
Tantangan tersebut menuntut lebih dari sekadar komitmen, tapi diperlukan langkah konkret, tata kelola yang semakin baik, dan pelayanan yang semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Sebab, ukuran kemajuan Karimun bukan hanya apa yang dibangun, melainkan seberapa besar perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat. (Nov)






