KARIMUN | WARTA RAKYAT – Memperingati Hari Batik Nasional 2026, Kabupaten Karimun kembali menegaskan kekayaan identitas budaya melalui batik khas daerah yang sarat filosofi, merepresentasikan karakter masyarakat, kearifan lokal, serta potensi alam dan budaya bahari.
Tidak sekadar lembaran kain, Batik Karimun menjadi simbol jati diri daerah yang memadukan nilai tradisi, keindahan alam, dan karakter masyarakat kepulauan.
Kabupaten Karimun memiliki delapan motif utama batik khas yang telah dipatenkan oleh Pemerintah Kabupaten Karimun.
Masing-masing motif menyimpan pesan filosofis yang mencerminkan nilai kehidupan masyarakat Melayu dan kekayaan alam setempat.
Kedelapan motif tersebut meliputi Udang Galah Beriring, Pokok Sagu Berayun, Tampuk Manggis Bunga Melur, Daun Sukun, Tampuk Manggis Sirih Raja, Wajik Tersamar, Jong Sri Gelam, dan Ikan Kurau.
Keistimewaan Batik Karimun semakin berkembang dengan hadirnya motif gugusan pulau Karimun yang sempat mencuri perhatian saat pelantikan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Karimun.
Motif ini menghadirkan representasi visual bentang kepulauan Karimun sebagai identitas geografis sekaligus kekuatan karakter daerah maritim.
Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Ketua Dekranasda Kabupaten Karimun, Ny Hj Siti Rojiah Iskandarsyah, menegaskan bahwa batik khas Karimun memiliki nilai lebih dari sekadar produk kerajinan, melainkan warisan budaya yang harus dijaga dan dikembangkan lintas generasi.
“Batik Karimun memiliki kekayaan motif dan filosofi yang menggambarkan identitas, kearifan lokal, serta karakter masyarakat kita. Ini merupakan kebanggaan daerah yang harus terus kita lestarikan, sekaligus dikembangkan agar semakin dikenal luas,” ungkapnya, Jumat (2/10).
Menurutnya, pengembangan batik daerah juga menjadi bagian dari upaya mendorong kreativitas pengrajin lokal, memperkuat ekonomi kerakyatan, serta membuka ruang bagi produk kerajinan Karimun untuk semakin kompetitif.
Senada dengan itu, Bupati Karimun, Ing Iskandarsyah, menegaskan bahwa pelestarian batik merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat identitas dan potensi ekonomi lokal.
“Batik Karimun adalah kebanggaan daerah. Di dalam setiap motifnya terkandung nilai budaya, sejarah, dan potensi alam yang menjadi kekuatan kita. Pemerintah daerah akan terus mendorong pelestarian dan pengembangannya agar batik Karimun semakin dikenal dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Komitmen tersebut turut diwujudkan melalui peresmian Rumah Batik Karimun sebagai wadah produksi, pembinaan, dan pengembangan kerajinan batik lokal.
Kini, kain bermotif khas Karimun semakin mendapat tempat dan digunakan oleh berbagai instansi pemerintah, sekolah, serta organisasi di wilayah Kabupaten Karimun.
Momentum Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober menjadi pengingat bahwa menjaga batik bukan sekadar mengenakan kain tradisional, melainkan merawat identitas, sejarah, dan kebanggaan bangsa.
Dari gugusan pulau hingga guratan motif penuh makna, Batik Karimun membawa pesan bahwa warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi harus terus hidup, berkembang, dan diwariskan. (Nov)






