KARIMUN | WARTA RAKYAT – Kualitas udara Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, berada dalam kategori Tidak Sehat akibat sebaran kabut asap kiriman dari Pulau Sumatera, Selasa (29/9/2026).
Meski demikian, BMKG memastikan tidak terdeteksi titik panas (hotspot) di wilayah Karimun.
Sebaran asap yang menyelimuti kawasan tersebut merupakan dampak kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sumatera yang terbawa pergerakan angin.
Forecaster on Duty BMKG Karimun, Erfa Khairunnisa, menjelaskan bahwa berdasarkan pemantauan citra sebaran asap pukul 10.00 WIB, asap masih terdeteksi di wilayah Kepulauan Riau, termasuk Karimun.
“Untuk wilayah Karimun, kondisi udara diprakirakan masih berupa udara kabur. Sebaran asap dipengaruhi pola angin yang bergerak dari Timur–Tenggara menuju Barat Laut–Utara dengan kecepatan sekitar 5–15 knot,” jelas Erfa dalam keterangannya.
Berdasarkan pemantauan BMKG, konsentrasi partikulat PM₂.₅ di Batam hingga pukul 09.00 WIB tercatat 73 µg/m³ atau kategori Tidak Sehat. Sementara di Karimun, keberadaan asap terpantau menyebabkan berkurangnya jarak pandang vertikal.
Di sisi lain, jarak pandang di perairan Karimun masih berkisar 5 hingga 6 mil. Kondisi tersebut membuat aktivitas pelayaran kapal hingga saat ini masih berlangsung normal.
BMKG mengingatkan, dinamika angin dan kondisi cuaca, terutama hujan, dapat memengaruhi perubahan konsentrasi partikulat serta luas sebaran asap dalam beberapa waktu ke depan.
Masyarakat diimbau tetap waspada, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, serta mengikuti pembaruan informasi resmi BMKG.
Meski Karimun nihil titik panas, dampak asap lintas wilayah tetap menempatkan kualitas udara sebagai perhatian utama, sementara aktivitas pelayaran masih terpantau normal. (Nov)






