Peluncuran Novel Hamidah, Gubernur Ansar: Memberikan Inspirasi dan Motivasi

26

TANJUNGPINANG | WARTA RAKYATGubernur H. Ansar Ahmad menyampaikan bahwa menulis karya sastra ialah praktik yang ia yakini dapat memperkuat keterampilan menulis pengarangnya. Karena dapat menguasai bahasa dan kosa kata yang kuat sembari meningkatkan daya imajinasi dan daya ingat terlebih terhadap sejarah.

“Saya mewakili Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau sangat mendukung karya-karya budayawan Melayu yang terus mengangkat dan melestarikan budaya dan menyampaikan kesan serta pesan moral yang terkandung di dalamnya,” ujar Gubernur Ansar saat Peluncuran dan Bedah Buku Novel Hamidah Karya Rida K. Liamsi melalui video conference dari Kediaman Gubernur, Tanjungpinang, Kamis (5/8).

Dalam kesempatan itu Gubernur Ansar mengucapkan selamat dan apresiasi kepada sastrawan dan budayawan Melayu kebanggaan Kepri yaitu Datuk Rida K. Liamsi atas peluncuran dan bedah buku Novel Hamidah.

“Saya juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah turut andil dalam penerbitan dan peluncuran buku ini” tutur Gubernur Ansar.

Kemudian Gubernur Ansar mengajak semua untuk mengapresiasi bahwa budaya Melayu mempunyai kontribusi besar terhadap karya sastra bangsa Indonesia.

“Selain nilai budaya Melayu yang sesuai dengan nilai luhur bangsa Indonesia, budaya Melayu juga sejalan dengan nilai yang menjadi pedoman dalam agama,” kata Gubernur Ansar.

Untuk itu, Gubernur Ansar berharap melalui peluncuran karya dan bedah buku Novel Hamidah ini dapat memberikan manfaat, inspirasi dan motivasi bagi siapa saja baik penulis maupun pembacanya.

“Sehingga hal ini dapat menstimulus potensi dan menambah wawasan masyarakat dalam memahami karya sastra dan termotivasi untuk terus berfikir kreatif” pungkasnya.

Sementara itu menurut Rida K. Liamsi, Hamidah merupakan salah satu dari tetralogi novel karyanya. Keempat novel ini merupakan mata rantai perjalanan sejarah Riau Lingga.

“Buku pertama dari tetralogi ini adalah “Bulang Cahaya”, dapat dikatakan ini merupakan tetralogi sungsang. Lalu yang kedua “Megat” yang garis waktunya lebih mundur lagi daripada “Bulang Cahaya”, tutur Rida.

Kemudian hari ini diluncurkan novel “Hamidah” dan saat ini ia sedang mengerjakan buku keempatnya.
Novel keempat ini sudah sampai 13 bab dikerjakannya.

Rida kemudian mengharapkan pembaca membaca novel ini dengan semangat kesastraan.
Karena bagaimanapun ini merupakan novel fiksi.

“Saya berusaha menulisnya sedekat mungkin dengan sejarah. Saya berharap dengan novel ini pemahaman sejarah tentang kerajaan Riau Lingga akan menjamah generasi muda,” ucapnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.