Puluhan Tahun Tak Dialiri Listrik, Warga Tirtomulyo Persiapkan Demo PLN

698
Warga Kampung Tirtomulyo rapat persiapan aksi demo PLN tuntut penyambungan listrik, Rabu (7/8/2019) malam.

TANJUNGPINANG | Warta Rakyat – Warga Kampung Tirtomulyo RT 2/RW 10 Kelurahan Pinang Kencana, Kecamatan Tanjungpinang Timur tak mau putus asa. Mereka berjibaku memperjuangkan haknya yang hingga kini tak kunjung dialiri listrik.

Meskipun tanah mereka saat ini berstatus hutan lindung, namun warga merasa memiliki hak atas penghidupan yang layak diatas tanah itu, sebab selama ini masyarakat yang mendiami sekitar 200 Kepala Keluarga itu selalu membayar kewajiban Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) setiap tahunnya.

Perjuangan warga bukan kepentingan sesaat, bukan pula untuk kepentingan politik. Tapi untuk masa depan anak cucu mereka kelak. Mereka ingin mewariskan anak cucu dengan kondisi terang benderang.

Ketua RT 2 / RW 10 Kelurahan Pinang Kencana, Mislam mengungkapkan, dalam waktu dekat ini pihaknya akan melakukan aksi demo ke kantor PLN Tanjungpinang.

Hasil musyawarah warga dengan beberapa tokoh masyarakat tadi malam, Rabu (7/8), lanjut Mislam, telah sepakat akan melakukan aksi demo untuk menuntut pembangunan pemasangan Jaringan PLN ke Kampunag Tirtomulyo.

“Pertemuan dengan beberapa tokoh masyarakat, mengerucut untuk persiapan aksi demo ke PLN dalam waktu dekat ini menuntut pembangunan Jaringan PLN ke Kp Tirtomulyo,” ujar Mislam, Kamis (8/8).

Saat dikonfirmasi jadwal pelaksanaan aksi, Mislam menjawab aksi demo akan dilakukan usai lebaran Idul Adha nanti.

“Kemungkinan setelah lebaran Idul Adha, klo belum juga ada kepastian dari intansi terkait,” tuturnya.

Mislam menceritakan, akhir-akhir ini warganya resah karena sudah seminggu kampung mereka gelap gulita.

“warga resah karena 1 minggu ini gelap gulita. Sebagian warga tidak sanggup lagi makai lampu sistem curah yang hanya membuat gesekan antar warga,” pungkasnya.

Keresahan itu lantaran sebagian warga macet melakukan pembayaran perminggunya, sehingga kekurangan dana untuk mengisi ulang 3 unit meteran curah. Lagipula warga juga tidak menginginkan meteran curah tersebut.

“Perbulannya warga harus menyisihkan Rp 200 ribu. Pengurus menagih Rp 50 ribu seminggu, jadi sebulan Rp 200 ribu. Itupun hanya nyala malam hari,” tutupnya.

Penulis: Prengki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.