Endri Sanopaka: Generasi Penerus Harus Hargai Perbedaan Latar Belakang

131
Tanjungpinang
Foto kiri-kanan: Komisioner KPU Kepri Arison, S.Pt.,MM, Ketua Stisipol Raja Haji Tanjungpinang, Endri Sanopaka, S.Sos.,MPM, Komisioner Bawaslu Kepri, Indrawan Susilo Prabowoadi, SH.,MH, Kasubdit Polmas Ditbinmas Polda Kepri, Kompol. Andar Sibarani, S.IK, dan moderator, William Hendri, SH.,MH, Sabtu (15/6/2019)

TANJUNGPINANG | Warta Rakyat  – Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisipol) Raja Haji Tanjungpinang, Endri Sanopaka, S.Sos., MPM menyoroti semangat generasi penerus yang dinilai akhir-akhir ini semakin memudar.

Pasalnya sejak era reformasi 1998 berlangsung tidak sedikit rakyat Indonesia yang tidak menghargai jasa-jasa para pendiri bangsa ini. Padahal para founding father bangsa ini telah bersepakat mengesampingkan segala perbedaan latar belakang guna terwujudnya negara dan bangsa Indonesia sebagaimana dirasakan saat ini.

“Yang saya soroti adalah kita sebagai generasi penerus harus menghargai jasa-jasa para founding fathers yang berlatar belakang berbeda-beda baik suku, agama, ras dan antar golongan,” Ujar Endri Sanopaka dalam diskusi Forum Group Discussion (FGD)di Hotel Bintan Plaza Tanjungpinang, Sabtu (15/6/2019.

Didalam isi Pancasila sendiri, kata Endri, jelas bahwa setiap sila merupakan saripati dari nilai-nilai luhur nenek moyang bangsa kita yang diperas dari sekian banyak nilai-nilai kebaikan sehingga terwujudlah pancasila tersebut.

Tanjungpinang

Dan hingga saat ini, sambungnya, Pancasila menjadi dasar negara yang merupakan pedoman dan pandangan hidup bangsa Indonesia

“Pendiri bangsa ini telah bersepakat mengesampingkan segala perbedaan demi untuk terwujudnya negara dan bangsa Indonesia sebagaimana yang kita nikmati saat ini,” sambungnya.

Menurutnya, hal tersebut dapat dibaca dan dipelajari kembali dalam risalah rapat BPUPKI yang merangkum berbagai pendapat dari tokoh2 pergerakan pada waktu itu diantaranya Soekarno, Mohammad Hatta, M. Yamin, Soepomo, dan lain-lain.

“Mereka beradu argumentasi namun akhirnya dengan musyawarah mufakat mereka dapat menyatukan perbedaan dengan wujud proklamasi kemerdekaan, UUD 1945, serta dasar negara Pancasila,” ungkapnya.

Hanya saja, Endri mengatakan, setelah hampir 20 tahun orde baru tumbang baru sadar bahwa bangsa ini telah kehilangan arah tanpa pedoman hidup, seolah Pancasila menjadi doktrin kekuasaan orde baru.

“Pada saat reformasi 1998 kita terlalu bersemangat menumbangkan rezim dan juga mencampakkan pancasila seolah pancasila adalah alat yang menjadi doktrin kekuasaan orde baru. Akhirnya setelah hampir 20 tahun reformasi kita baru tersadar bahwa kita kehilangan arah tanpa pedoman hidup berbangsa,” ujarnya.

Untuk itu Endri Sanopaka yang juga pengamat politik ini menghimbau agar bangsa ini kembali pada jati diri bangsa dengan berpedoman kepada Pancasila.

Pasca berakhirnya pemilu, lanjut Endri, segala konsekuensi atas pilihan adalah merupakan hasil dari proses demokrasi yang telah sepakati bersama, sehingga tidak ada alasan bagi pihak-pihak tertentu untuk mencederai hasil demokrasi yang sudah sama-sama dilalui.

“maka tidak ada alasan mencederai hasil demokrasi yang sudah sama-sama kita lalui,” ucapnya.

“Yang perlu dilakukan kedepan adalah memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa demi kemajuan indonesia,” tutupnya.

Penulis : Frengki
Editor  : Red

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.