Harga Cabai di Tanjungpinang Melambung: Pak Untung Raup Puluhan Juta, Pak Jonni Simanjuntak Sumringah

Untung

TANJUNGPINANG | WARTA RAKYAT – Sejumlah petani cabai di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riiau tampak tersenyum sumringah dan bahagia.

Betapa tidak, sejak sebulan terakhir harga komoditi dapur seperti cabai rawit, cabai merah dan cabai hijau merangkak naik.

Pancaran kebahagiaan itu terlihat pada wajah Pak Untung dan Pak Jonni Simanjuntak, dua orang petani di Jalan Raya Senggarang, Km 14 Kelurahan Air Raja, Kecamatan Tanjungpinang Timur, Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau.

Kebahagiaan mereka pun semakin bertambah saat didatangi seorang jurnalis yang memberinya sebuah bingkisan.

Pak Untung, salah satu petani yang sudah puluhan tahun bercocok tanam di lokasi itu mengatakan meski tanaman cabai hijau miliknya tidak luas yakni sekitar 1.800 meter persegi, namun dengan harga meroket saat ini penghasilan yang didapatkan dari penjualan tersebut sangat memuaskan.

“Hasil panen pertama, kita baru petik 325 Kilo. Perkilonya Rp 60 ribu, lumayanlah,” ujar Untung, dengan wajah sumringah saat ditemui Rabu (6/07/2022) sore

Ia mengaku selama 20 tahun sebagai petani baru kali ini menjual cabai hijau dengan harga Rp 60 ribu perkilogram. Selama ini, kata Untung, hanya kisaran Rp 7 ribu hingga Rp 15 ribu.

Dia mengungkapkan total hasil panen pertama yang ia terima sekitar Rp 20 juta.

“Selama 20 tahun baru kali ini kayak gitu (Rp 60 ribu). Biasanya hanya Rp 7 ribu, paling tinggi Rp 15 ribu,” lanjutnya

Pak Untung sapaan akrab pria 52 tahun itu mengungkapkan dari hasil panen perdana cabai miliknya sudah bisa mengembalikan modal yang dikeluarkan sejak penanaman.

“Ini modal habis Rp 7 juta, untuk beli bibit, beli pupuk, beli mulsa plastik dan lain lain. Kalau ini sudah balek modal. Kalau harga Rp 10 ribu belum tentu balik modal,” ucapnya.

Kendati demikian ia merasa khawatir lantaran pertumbuhan cabai yang dikelolanya sedikit mengalami gugur daun dan buah.

Pasalnya, kata Untung, musim panas dan hujan kerap membuat daun dan buah cabai rontok berguguran meskipun sudah diobati.

“Kendalanya hujan panas. Gak bisa diobatin, dikasih obat yang mahal-mahal pun nggak bisa. Mungkin karena tanah bauksit. Mungkin yang pak Juntak punya karena dikelilingi jeruk, jadi gak kena panas, daunnya hijau terus,” tutupnya.

Jonni Simanjuntak (baju biru)

Ditempat terpisah, pak Jonni Simanjuntak yang tak jauh dari lokasi perkebunan pak Untung juga tampak sumringah saat awak media menghampirinya.

Ia bersyukur dengan harga cabai saat ini yang melambung tinggi.

Menurutnya, kenaikan harga cabai di Tanjungpinang maupun daerah lain terjadi akibat pasokan barang dari pulau Jawa maupun Sumatera tidak mencukupi.

“Kita senang kebetulan di musim panen harga tinggi. Ini sudah kita panen sekali cabai hijau. Kalau kita petik sampai menjadi cabe merah kelamaan. Banyangkan kalau kita buat cabai hijau sudah bisa 3 kali petik, karna langsung bertunas batangnya. Kalau cabai merah bisa lama,” ujar Jonni Simanjuntak, yang sebelumnya bekerja sebagai pelaut ini.

Sebulan Terakhir Harga Cabai di Tanjungpinang Melambung Tinggi

Diketahui, sebelumnya diberitakan media ini harga cabe di Tanjungpinang, Kepulauan Riau makin pedas.

Harga cabe dijual di Pasar Baru Tanjungpinang berkisar antara Rp90 ribu hingg Rp100 per kilogram.

Salah satu pedagang di Pasar Baru 1 Tanjungpinang Karti mengatakan, harga cabe naik sudah dua pekan lalu.

“Karena gagal panen, stok jadi menipis. Saya datangkan cabe dari Yogjakarta,” ujar Karti, Sabtu (12/6/2022).

Ia mengaku hanya ada stok cabe rawit dan cabe rawit nano. Cabe rawit dijualnya Rp100 ribu perkilo, sedangkan cabe rawit nano Rp120 ribu perkilo.

“Sebelumnya cabe rawit hanya Rp50 ribu per kilo, cabe rawit nano hanya Rp60 ribu perkilo,” ucapnya.

Wanita sudah berdagang selama 30 tahun ini mengaku sering menerima keluhan konsumen karena kenaikan harga cabe. Kendati begitu, para konsumen tetap membelinya, karena menjadi bahan pokok.

“Penjualan pun seperti biasa, tidak ada penurunan,” imbuhnya.

Pedagang lain, Junaidi mengaku harga cabe merah juga mengalami kenaikan yang signifikan, Ia menjualnya Rp90 ribu perkilo. Sedangkan cabe rawit dijual Rp90 ribu perkilo.

“Harga tergantung banyak stok, sekarang stok kurang, mau tidak mau kita naikan,” ujarnya.

Tidak hanya itu, ia mendapatkan stok cabe bukan langsung dari distributor, tetapi didapatkan dari pihak kedua.

“Kita dapat dari pihak kedua sudah tinggi,” ucapnya.

Hal senada juga diungkapkan Eka, pedagang Pasar Baru 2 Tanjungpinang. Eka menjual harga cabe rawit Rp90 ribu perkilo, cabe merah Rp90 ribu perkilo dan cabe hijau Rp60 ribu perkilo.

“Sebelumnya cabe merah dan rawit berkisar Rp40 ribu hingga Rp60 ribu perkilo. Kalau cabe hijau biasa Rp35 ribu perkilo, naik lebih hampir 50 persen,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, naiknya harga cabe karena terjadi kegagalan panen di Jawa akibat curah hujan tinggi.

“Jadi stok menipis dan harga menjadi naik,” imbuhnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.