Bupati Kampar Lantik Agus Safitra Pimpin KKBK Karimun, Batobo Harus Jadi Kekuatan Persatuan

Foto bersama usai pelantikan pengurus Kerukunan Kampar Batobo Karimun (KKBK) periode 2026–2029 di Gedung KKBK Batu Lipai, Tanjung Balai Karimun, Sabtu (3/10/2026). FOTO: Eka/WARTA RAKYAT

KARIMUN | WARTA RAKYAT – Semangat persaudaraan, amanah, dan gotong royong menjadi pesan kuat Bupati Kampar, Ahmad Yuzar, saat melantik pengurus Kerukunan Kampar Batobo Karimun (KKBK) periode 2026–2029 di Gedung KKBK Batu Lipai, Tanjung Balai Karimun, Sabtu (3/10/2026).

Agus Safitra resmi dipercaya memimpin organisasi tersebut, didampingi Arbi Yunu sebagai Sekretaris Umum.

Bacaan Lainnya

Pelantikan berlangsung khidmat, disaksikan Bupati Karimun Ing Iskandarsyah, Wakil Bupati Karimun Rocky M. Bawole, Wakil Bupati Kampar Misharti, serta sejumlah tokoh pemerintahan dan masyarakat.

Turut hadir sejumlah kepala OPD Pemkab Kampar, Staf Khusus Gubernur Kepri Nurdin Basirun, anggota DPRD Provinsi Kepri Zai Zulfikar, anggota DPRD Karimun Muhammad Firdaus, dan Ketua LAM Kabupaten Karimun Muhammad Firmansyah.

Ahmad Yuzar menegaskan bahwa KKBK bukan sekadar organisasi paguyuban, melainkan rumah besar masyarakat Kampar di perantauan untuk menjaga identitas, mempererat silaturahmi, sekaligus menyampaikan aspirasi.

Ia berharap kepengurusan baru mampu menjalankan amanah dan merespons kebutuhan sekitar 4.000 anggota masyarakat Kampar yang berada di Kabupaten Karimun.

“Organisasi ini harus menjadi wadah yang mampu menyatukan masyarakat Kampar di perantauan, tempat menyampaikan aspirasi, keluhan, sekaligus mengobati kerinduan terhadap kampung halaman. Pengurus yang telah diberikan amanah harus mampu menjaga kepercayaan seluruh anggota,” pesan Ahmad Yuzar.

Mengangkat tema Batobo, pelantikan ini membawa pesan filosofis yang kuat. Dalam tradisi masyarakat Kampar, Batobo merupakan budaya bekerja bersama, khususnya dalam kegiatan berladang, dengan hasil yang diperuntukkan bagi kepentingan bersama.

Ahmad Yuzar berharap nilai tersebut tidak berhenti sebagai simbol budaya, tetapi diterapkan dalam tata kelola organisasi.

Semangat gotong royong, persatuan, kesatuan, dan kepedulian sosial harus menjadi fondasi KKBK dalam merawat hubungan antarsesama perantau maupun dengan masyarakat setempat.

Ia juga menegaskan bahwa hubungan emosional, ekonomi, dan kebudayaan antara masyarakat Kampar dan perantauan telah terjalin secara turun-temurun.

Identitas Kampar sebagai Serambi Mekkah-nya Provinsi Riau, dengan karakter santun serta menjunjung tinggi nilai agama dan penghormatan terhadap kepemimpinan, diharapkan terus terpelihara di tanah perantauan.

Sebagai bentuk perhatian terhadap hubungan kekeluargaan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kampar menyampaikan apresiasi atas terjalinnya hubungan baik dengan masyarakat Kampar di Karimun.

Ahmad Yuzar juga menyerahkan dukungan awal sebesar Rp10 juta untuk mendukung kegiatan organisasi.

Keberadaan Gedung KKBK di Karimun turut menjadi perhatian tersendiri, mengingat fasilitas serupa belum banyak terbentuk di kabupaten lain di Provinsi Kepulauan Riau.

Pemerintah Kabupaten Kampar, lanjutnya, terbuka terhadap saran, masukan, hingga kritik konstruktif dari masyarakat Kampar di perantauan demi kemajuan daerah.

Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Yuzar turut memaparkan arah pembangunan Kabupaten Kampar yang menitikberatkan pada pelayanan dan kesejahteraan masyarakat lapisan bawah.

Dengan luas wilayah sekitar 11.000 kilometer persegi dan jumlah penduduk riil diperkirakan mencapai satu juta jiwa, pemerintah daerah memprioritaskan sejumlah program strategis.

Di antaranya alokasi sekitar Rp100 miliar untuk layanan kesehatan gratis melalui Universal Health Coverage (UHC), peningkatan anggaran penanganan stunting dari Rp50 juta menjadi Rp2,4 miliar, beasiswa pendidikan Rp5 miliar, serta bantuan beras bagi masyarakat kurang mampu sebesar Rp7 miliar.

Peningkatan dukungan terhadap fasilitas keagamaan, infrastruktur, serta program pemberangkatan umrah bagi 30 orang yang berjasa dalam pengabdian keagamaan juga menjadi bagian dari perhatian pemerintah daerah.

Pelantikan KKBK periode 2026–2029 akhirnya bukan sekadar pergantian kepengurusan, melainkan momentum memperkuat ikatan batin antara kampung halaman dan tanah perantauan.

Melalui filosofi Batobo, persaudaraan masyarakat Kampar di Karimun diharapkan tumbuh menjadi kekuatan sosial yang solid, inklusif, dan berkelanjutan. (Nov)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses