TARUTUNG | WARTA RAKYAT – Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo memperingatkan bahwa perubahan iklim global akan terus memicu bencana alam berulang di Indonesia.
Peringatan ini disampaikan saat Dialog Kebangsaan bertajuk “Merawat Bumi, Menguatkan Solidaritas, Menjaga Masa Depan Bangsa” di Gedung Raja Pontas Lumbantobing, Kompleks HKBP Pearaja Tarutung, Tapanuli Utara (Taput), Minggu (11/1/2026).
“Bencana alam akan terus menerus datang di masa depan. Maaf kalau saya bawa berita yang kurang baik. Karena itu sudah pasti bahwa bencana alam akan terjadi lagi,” ujar Hashim di hadapan Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution, tiga wakil menteri dan para Kepala daerah se Tapanuli Raya.
Dialog kebangsaan ini diinisiasi Gerakan Kristiani Indonesia Raya (Gekira) dan dihadiri Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono, Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki, serta Ephorus HKBP Pendeta Dr Victor Tinambunan MST.
Hashim menyampaikan fakta yang disebutnya “paling pahit” bagi bangsa Indonesia terkait perubahan iklim global.
Indonesia hanya menghasilkan 3 ton emisi karbon dioksida per kapita setiap tahun. Sementara negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Eropa, Rusia dan Jepang menghasilkan rata-rata 13 ton per kapita.
“Itu fakta yang sangat menyedihkan. Kita yang menghasilkan sedikit, relatif karbon dioksida. Emisi karbon yang menyebabkan perubahan iklim, kita juga yang menderita,” katanya.
Menurutnya, perubahan iklim yang dialami Indonesia merupakan dampak dari aktivitas di wilayah-wilayah bumi lainnya, terutama negara-negara dengan emisi tinggi.
“Karena yang kita alami itu akibat perubahan iklim yang terjadi di wilayah-wilayah bumi yang lain,” jelasnya.
Hashim menegaskan, bahwa bencana alam yang menimpa Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat harus menjadi pembelajaran bagi seluruh Indonesia.
“Yang dialami tiga provinsi ini menjadi pembelajaran dan contoh bagi seluruh rakyat Indonesia di 38 provinsi,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa perubahan iklim tidak bisa diatasi dalam waktu singkat, sehingga dampaknya akan terus dirasakan dalam beberapa dekade ke depan.
“Perubahan iklim dalam waktu singkat, waktu dekat tidak bisa ditangani baik. Itu mungkin beberapa dekade,” ujar Hashim.
Hashim menekankan pentingnya kesiapsiagaan dan antisipasi dari seluruh kepala daerah di Indonesia menghadapi ancaman bencana alam.
“Kepala daerah, bupati dan gubernur di provinsi lain harus sekarang harus antisipasi, harus persiapan. Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur rentan. Hujan itu di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Ia mengaku menyaksikan sendiri perubahan curah hujan ekstrem yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Bali.
“Saya punya dua rumah di Pulau Bali dan saya bersaksi, sejak 15 tahun ini curah hujan yang luar biasa di Pulau Bali yang belum terjadi dulu. Hujan, hujan dan hujan lagi, dan itu bukan hujan gerimis, itu seperti satu sungai jatuh seperti yang dialami rakyat Sumatera Utara,” ungkapnya.
Hashim mengaku belajar dari Presiden Prabowo Subianto, yang juga kakak kandungnya, tentang pentingnya mengantisipasi skenario terburuk.
“Saya belajar dari Presiden yang kebetulan saja adalah kakak kandung saya. Dia mungkin karena dia tentara, mantan jenderal, dia selalu antisipasi yang terburuk,” katanya.
Hashim mencontohkan langkah antisipasi yang dilakukan Prabowo saat menjabat Menteri Pertahanan menghadapi pandemi Covid-19.
“Dia sebagai Menteri Pertahanan merencanakan pembangunan 16 pusat kesehatan health security center, pusat keamanan kesehatan di bawah Kementerian Pertahanan untuk antisipasi Covid yang akan datang,” jelasnya.
Saat Covid-19 terjadi, hanya ada satu laboratorium di Indonesia yang mampu memeriksa sampel dari Papua hingga Aceh. Kini, 16 laboratorium tengah dipersiapkan di bawah Kementerian Pertahanan, termasuk di Medan.
Hashim menekankan pentingnya menyiapkan stok cadangan pangan nasional untuk mengantisipasi bencana alam.
“Berarti stok pangan untuk nanti dipakai oleh mungkin BNPB, harus sudah siap stok cadangan untuk antisipasi bencana-bencana alam,” katanya.
Ia mengaku pesimis terhadap percepatan penanganan perubahan iklim global yang berdampak ke Indonesia.
“Maaf saya agak sedikit pesimis mengenai perubahan iklim. Perubahan iklim ini terjadi dimana-mana, bukan di Indonesia. Dan kita lihat bencana alam terjadi di Amerika, terjadi di Eropa, terjadi di Brazil, Amerika Selatan, terjadi dimana-mana,” ujarnya.
Hashim mengungkapkan bahwa pemerintah terpaksa membangun tanggul laut raksasa untuk melindungi lahan pertanian di Pantai Utara Jawa.
“Pemerintah dengan sangat terpaksa sudah memutuskan untuk membangun tanggul laut raksasa yang panjangnya saya dengar bisa sampai 600 sampai 800 kilometer,” katanya.
Tanggul tersebut dibangun untuk menjaga kelestarian sawah di Pantura Jawa yang menjadi sumber penghidupan 80 hingga 100 juta jiwa.
“Ini untuk menjaga kelestarian sawah-sawah yang terletak, lahan sawah terletak di Pantura Pulau Jawa, di mana kalau tidak salah 80 sampai 100 juta hidupnya tergantung pada kelestarian sawah itu,” jelasnya (**)
Sumber : SIB






