Mental Toughness: Pembelajaran Hebat dari Mahaguru Drona

Ketua Forum Biro/Direktorat Akademik, Kemahasiswaan, Perencanaan dan Kerjasama PTN Indonesia .f-istimewa

Oleh : Ary Satia Dharma,S,Sos . M.Si (Ka.Biro Akademik, Perencanaan, Kemahasiswaan dan Kerjasama UMRAH)

DALAM epos Mahabharata yang agung, ada satu episode penting yang kerap luput dari sorotan. Sebelum bersedia mendidik para pangeran Hastinapura, mahaguru Drona mengajukan satu syarat yang sederhana, tapi sangat ‘menggebuk’ terutama bagi Raja Destarasta: para pangeran  harus meninggalkan istana dan tinggal di hutan, tanpa satupun fasiltas istana yang diperbolehkan mengikutinya.

Selama 12 tahun,  di tengah rimba itulah, para bangsawan muda belajar lebih dari sekadar seni menggunakan senjata dan strategi perang. Mereka belajar bersahabat dengan alam dengan segala ketidakpastiannya. Mereka juga belajar tentang lapar dan lelah. Tentang sunyi dan kesunyian. Tentang disiplin tanpa pengawasan. Tentang gagal dan bangkit lagi. Drona tahu, kemenangan di medan perang bukan hanya ditentukan oleh kecerdasan strategi, tapi juga oleh kekuatan jiwa (Mental Toughness) yang tahan terhadap guncangan dunia.

Kisah ini menyampaikan pembelajaran penting,  bahwa ketangguhan mental anak tidak akan dapat terbangun tanpa kemitraan dan komitmen yang kuat dari guru dan orangtua (keluarga). Guru tahu apa yang diperlukan murid untuk tumbuh menjadi kuat, dan orangtua memiliki trust (kepecayaan) sepenuhnya kepada guru.  Hal ini  sangat relevan dengan tantangan pendidikan kita masa kini. Di tengah budaya pengasuhan modern yang kerap memanjakan anak dengan kenyamanan berlebih, tanpa sadar kita justru ‘mencetak’ generasi yang makin rapuh secara mental. Banyak orangtua membangun ‘istana’ bagi anak-anak mereka—memberikan fasilitas lengkap, perlindungan ekstrem dari rasa sakit atau kegagalan, dan menyelesaikan segala masalah sebelum anak sempat menghadapinya sendiri. Bahkan guru kerap dibuat gentar oleh ancaman pidana dari orangtua siswa yang melapor ke aparat hukum saat berupaya mendisiplinkan anak didiknya.

Dengan pola pendidikan seperti itu, kita sedang membesarkan generasi yang cerdas secara intelektual, tapi tak kuat menghadapi sedikit getir. Akibatnya, tidak sedikit anak tumbuh menjadi pribadi yang mudah patah semangat, cepat menyerah, dan tidak tahan menghadapi tekanan. Mereka tumbuh dengan nilai akademik tinggi, tapi ‘patah’ hanya karena satu kalimat penolakan. Mereka fasih berbahasa asing, tapi gagap ketika harus berdamai dengan ketakutan sendiri. Saat beranjak dewasa dan harus berhadapan dengan kenyataan hidup yang penuh tantangan dan ketidakpastian, mereka semakin gamang.  Lalu kita heran, mengapa mereka menjadi begitu lemah di dunia yang semakin keras?

Mungkin ada sesuatu yang tak kita ajarkan. Bahwa hidup kadang absurd. Bahwa tidak semua keinginan akan dikabulkan. Bahwa jatuh adalah bagian dari berjalan. Bahwa hutan, dalam segala ke-angker-an nya, justru menjadi tempat yang ideal untuk menempa manusia hebat.

Pendidikan sejati bukan hanya tentang aspek akademik dan prestasi intelektual. Keseimbangan antara pendidikan kognitif, motorik, serta ketangguhan mental adalah fondasi penting dalam membangun manusia yang kuat. Mental toughness bukan bawaan lahir; ia ditempa melalui pengalaman jatuh dan bangkit, gagal dan mencoba lagi, lelah dan tetap melangkah.

Sekolah dan keluarga perlu menjadi ruang aman untuk menghadirkan tantangan yang membangun, bukan memanjakan. Memberi tugas yang menantang, membiarkan anak menyelesaikan konflik kecil sendiri, bersahabat dengan alam dan ketidakpastian, berani keluar dari zona nyaman,  serta mengajarkan pentingnya tanggung jawab dan disiplin, semua itu adalah ‘hutan’ kecil yang bisa kita hadirkan dalam keseharian anak-anak kita.

Kita tidak bisa menjamin dunia akan menjadi tempat yang mudah, tetapi kita bisa mempersiapkan anak-anak kita menjadi pribadi yang kuat, tangguh, dan adaptif. Seperti para ksatria Hastinapura yang dilatih di tengah kerasnya alam, anak-anak kita juga membutuhkan ruang untuk belajar menjadi kuat—bukan hanya pintar, tetapi juga tahan banting. Bahkan mungkin juga mereka  perlu sedikit tersesat. Agar tahu rasanya menemukan arah sendiri.

Kini saatnya mengembalikan keseimbangan dalam pendidikan: bukan hanya mencetak juara kelas, tetapi juga membentuk pejuang kehidupan. Mental Toughness bukan jargon motivator. Ia adalah kesunyian yang diterima. Kegagalan yang dijalani. Ia adalah luka yang tidak dibungkus dengan hadiah, tapi dijaga agar tak bernanah. Mental toughness adalah warisan terbaik yang bisa diberikan orangtua kepada anaknya—lebih dari warisan harta atau gelar akademik.

Itulah sebabnya mahaguru Drona tidak sekedar mengajarkan strategi untuk menang dalam perang,  Ia juga mengajarkan para pangeran Hastinapura bagaimana cara menyikapi kekalahan, agar tidak menjadi hancur karenanya.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses