Karantina Musnahkan Barang Bawaan Penumpang

Balai Karantina Pertanian Kelas II A Tanjungpinang saat memusnahkan barang bawaan yang dibawa oleh penumpang

TANJUNGPINANG | Warta Rakyat Balai Karantina Pertanian Kelas II A Tanjungpinang memusnahkan barang bawaan yang dibawa oleh penumpang yang berasal dari Singapura, Malaysia dan China dengan cara dibakar, Jumat (8/11).

Adapun yang dimusnahkan berupa Bahan Asal Hewan (BAH) sebanyak 70,098 kg, Hasil Bahan Asal Hewan (HBAH) sebanyak 34,829 kg berasal dari Singapura dan Malaysia dan OPTK llegal berupa Tumbuhan sebanyak 30 batang.

Hasil tumbuhan 32 batang dan 196 kg, serta buah-buahan sejumlah 13 kg yang berasal dari Singapura, Malaysia dan China.

Kasi Karantina Tumbuhan, Khalid Daulai mengatakan, Pemusnahan Media Pembawa Hama Penyakit Hewan Karantina (MP HPHK) dan Media Pembawa Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (MP OPTK) Illegal.

“Hasil pertanian dan hewan yang tidak dilengkapi dengan dokumen sehingga apabila masuk dikhawatirkan akan membawa penyakit dan hama,” katanya.

Khalid menyebutkan, Kepri merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Negara tetangga Singapura dan Malaysia.

Kedekatan geografis ini selain memberikan keuntungan baik secara ekonomi maupun sosial juga mempunyai beberapa kerugian, salah satunya adalah wilayah Kepulauan Riau menjadi salah satu tempat pemasukan barang illegal Media Pembawa dan Media Pembawa ilegal.

“Pemusnahan yang kita lakukan merupakan salah satu langkah dalam menjaga wilayah Kepri agar senantiasa bebas dari penyakit yang belum ada,” jelasnya.

Lanjutnya, pihaknya lebih melakukan pencegahan tersebarnya baik dari hama dan penyakit yang dibawa melalui media berupa dari tumbuhan dan hewan.

“Dimusnahkan hari ini merupakan barang tentengan penumpang yang masuk dari pintu resmi pelabuhan dan bandara,” pungkasnya.

Penulis : Raymon
Editor.   : Frengki

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.